Bukan kaleidoskop

2018 memang tahun yang spesial buat saya, dari momen yang menyenangkan hingga yang blas enggak. Saya nggak mau bahas satu satu karena ini bukanlah kaleidoskop tapi Cuma coretan sampah seperti biasanya.

Berawal dari foya foya menikmati tabungan hasil profit nglayap tahun kemarin, komunitas baru, kenalan baru dan beberapa propose proyek sebuah bisnis plan baru untuk mengekspansi usaha kontraktoran milik sedulur, saya menikmati euforia itu dengan sangat barbar. Iya, saya melakukan segala sesuatu yang baru yang belum pernah saya lakukan bahkan memang nekat dan merasa semua ada didalam genggaman, bahasa marokonya adalah "hajar nda..",

Tentu tak Cuma di sinetron yang ada antitesis dengan semua itu, ketika suasana mulai stagnan dan menjadi rutinitas harian yang sebenarnya tak bisa dilihat juga hasilnya karena terasa menjadi hal yang biasa biasa saja, tiba tiba saya terbangun oleh seruan simbok, "Ndik ki lho Bapakmu tibo, bar ketabrak, kae sing nabrak ng ngarepan.". Ya rutinitas Bapak tiap sore adalah pit pitan, olah raga yang murah meriah dan tidak membosankan. Hanya hari itu olah raga menjadi lain.

Tak perlu cerita panjang tentang itu,masalah sudah selesai, tentu polemik banyak, ngosek kawasan pesisir yang terkenal keras, polemik dengan oknum aparat yang berwenang yang masih sedulur, dengan rumah sakit dan dengan keluarga lain, semua karena saya sih, ndablek, keras kepala, suka ribut secara senyap dan licik you name it. 9 hari terbaring di ICU dan saya merasakan tidur di teras depan ICU dengan segala deg degan nya ketika ada bel pemberitahuan. Tepat 2 minggu terbaring dan 2 minggu pula menjelang ultah yang ke 72, buku yang bernama F Siswoyo itu ditutup oleh Penulisnya.

Terima kasih atas dedikasi selama ini buat beliau sebagai Ayah, buat Penulisnya yang menyajikan cerita yang baik via buku itu buat saya, dan buat mereka mereka semua yang terlibat yang membantu menutup, memberikan sampul dan membantu menaruh di rak yang bisa suatu saat saya baca lagi ketika rindu.

Saya tak mau mengatakan itu sebagai titik terendah, karena saya masih bingung menghadapi hal itu sebaiknya dengan suka cita atau dengan kesedihan. Semua bisa diraih dengan sudut pandang tertentu kan. Saya anggap itu ada di ttik nol saja.

Berkisaran dengan itu sampai di sekitar 100hariannya saya justru mengalami hal hal yg lebih nadir, entah akibat ribut berkepanjangan tadi, Ekspektasi pekerjaan yang tak sesuai fakta, deal deal yang gagal dan yang paling parah adalah akibat komplikasi semua itu, hari hari cupet

Melewati semester akhir tahun ini sedikit demi sedikit aktifitas mulai bergairah dan memberikan hasil, tawaran proyek mulai ada beberapa yang nyantol, dari yang komersil, yang sosial, yang berbasis komunitas dan beberapa lainnya yang lebih berat di sangga. Semua bisa jadi pijakan untuk mengawali tahun depan yg tinggal beberapa jam lagi datang.

Semoga jadi lebih baik ya buat bersama

Eh sedikit yang kelewat, biasanya ada yg protes kalo postingan blog ini nggak saru atau jorok atau lucu secara ngawur, itu semua hanya pilihan sudut pandang saja demi menggaet minat baca anda, kebetulan untuk yang ini saya tak berharap anda baca

 

Sent from my Windows 10 device

 

tememplek by endik kurang luwih jam 8:32 p.m.,

0 gayung bersambut:

Een reactie posten

<< mbalik

sakderengipun kawula nyuwun agunging samudra pangaksami dumateng panjenengan sami, sesepuh pinisepuh, bapak bapak saha ibu ibu, mas mas saha mbak mbak ingkang kersa mampir dhateng papan kawula menika, menawi wonten kalepatan, sedaya klenta klentunipun bilih tumindak lan atur, nyuwun boten dipun dadosaken penggalih, mugi mugi Ngarsa Dalem Sing Ngecat Lombok paring berkah..