Supir millenial

Beberapa waktu lalu saya diajak sodara bertemu seseorang temannya, lalu di lain kesempatan saya diundang beliau ke rumah, oh iya beliau adalah seseorang juragan tambak. Singkat cerita dia ingin bantuan untuk menjual tambaknya yang sekian ribu meter persegi itu.
Ada alasan yang agak aneh menurut saya, anaknya tak lagi berminat memelihara dan menginvestasikan properti itu dan menjadi petani udang seperti bapaknya, lalu rencananya uang penjualannya untuk beli dump truk, iya dia bisa punya dump truk kecil baru 5 buah dari hasil jualan properti tambak yang produktif itu. Singkat cerita realisasinya hanya 1 dump truk baru, rumah baru yang mewah untuk ukuran kampung tepian tambak untuk si anak dan sebuah brompit ninja, sisanya ditabung.
Jangan kuliah tentang investasi properti atau apapun ke saya, ini bukan problem saya. Ada dua sisi mata uang, anda bisa pilih dari sudut pandang mana saja.
NGOEEEENGGGGKKK...!!! Klakson angin bajirut yang jan ra mutu tenan spelling kata katanya begitu juga volume trebel dan bass nya, entah pake amply apa yang tertanam di kompresor truk itu, mengagetkan saya yang sore itu melayang ringan menyusur jalur. Ketika tak longok, jebul si wedus, ya si anak mantan juragan tambak itu sambil tertawa lalu njejeri ngebak ngebaki jalan ngobrol basa basi dan berakhir undangan mampir ke rumahnya setelah di klakson panjang mobil yang sedang sipat kuping gedandapan entah sedang ngeterke wong arep babaran atau sedang menahan kepising tetapi ketahan kami. Iya ternyata antrean yang tertahan kami berdua sudah cukup panjang sebagaimana sore itu bebarengan dengan waktunya bubaran pabrik.
Manner di jalan raya, poinnya itu sih. Sore itu dia bisa njejeri dan ngebut karena bak nya glondangan alias kosong.
Lepas dari itu, sering sekali truk tanah muatan penuh berbarengan jalan di sisi kiri kanan lajur. Ada dua alasan utama, di kiri mereka enggan menghadapi resiko gedandapan karepe dewe akibat ulah oknum pengendara motor yang sak kepenake dewe. Sedang kalau di kanan, tentu antrean akibat truk yang thumuk thumuk itu menjadi problem tambahan karena lajur kiri memang rawan potensi bahaya dari becak, pak kaji numpak brompit atau mak mak bermotor entah mau takziah atau ke pasar. Kalau pasukan bermotor tak usah ditanya, sepanjang laju mengikuti laju traffic tentu tak begitu bermasalah. Lagian kalaupun bermasalah ya harap maklum saja.
Dilema jalan itu acap terjadi di siang hari, truk thumuk thumuk tak Cuma kebingungan cari jalur, namun dewasa ini anda akan sering mendapati fenomena yang tidak hanya seperti itu, mereka yang thumuk thumuk itu sering ngebak ngebaki jalan, thumuk thumuk di kiri dan kanan, kedewasaan berkendara terkadang terkikis oleh ego ala kadarnya dengan berlandas ada "urip neng nalan" alias memang dijalan untuk cari penghidupan. Seperti teman itu, dengan segala kemudahan dewasa ini dan keberuntungan pulung dari tambak, upgrade kewirausahaannya tentu perlu diapresiasi, begitu pula dengan teman2nya sepantaran yang lain. Namun dibalik itu ketika kelakuan angkot merambah ke supir truk, berbahagialah anda, ada wahana baru untuk menguji adrenalin.
Truk adalah sebuah mekanisme mesin besar yang jamak dimelintasi kehidupan kita sebagaimana fungsinya sangat dekat dengan berbagai kebutuhan manysia. Mesin yang mudah diperoleh dan familiar untuk dioperasikan. Namun disini berbeda dengan di luar. Untuk menjalankan truk operator atau driver wajib memperoleh sertifikasi layaknya mengoperasikan sebuah mesin.
Dengan perijinan yang lebih mudah tentunya mengoperasikan truk semudah belajar nyupir angkot, sama sama "golek pangan ing ndalan". Benarkah? Terserah anda, tentu ambang idealisnya di jalan raya adalah behave saja.



tememplek by endik kurang luwih jam 7:24 p.m., > ,

Cerita teman

Sebenarnya ini bukanlah hal penting untuk panjenengan baca, sebagaimana sebuah cerita orang lain, tentu ini tak terlalu berpengaruh sama kehidupan sampeyan dan saya. Yah sebagai obrolan untuk mengisi postingan yang nyaris setahun sekali di isi di blog ga jelas ini.

Berawal dari obrolan ngalor ngidul tentang citarasa kopi, entah bagaimana sambungannya membelok ke obrolan tentang media sosial sebagai konteks makelaran teknologi.

Medsos punya jutaan alasan mengapa ia dibutuhkan dewasa ini, ya setiap lini hidup sebagian besar kita di belahan dunia sudah terinstall medsos, fitur berinteraksi itu ada di otak reptil, terbidik sudah. Saya nggak mau mempermasalahkan itu sih, secara prinsip hal ini adalah benar, teknologi membantu manusia, medsos membantu manusia dalah hal interaksi. Yang kita coba kulik adalah sifat addict itu yang sedikit banyak membuat teknologi berkembang tak saja untuk membantu anda, namun sebaliknya manusia membantu mempermudah teknologi, eh bukannya benar, teknologi ada oleh keberadaan manusia? Iya. Lebih jauh lagi ketika teknologi tak lagi menjadi alat bantu, teknologi menjadi lebih rumit dan manusia bergantung padanya untuk membuat segalanya menjadi nyaman dalam tolok ukur keberhasilan si manusia itu sendiri, pada akhirnya supply demand menjadi seleksi alam si manusia itu, dan berakhir menjadi budak teknologi, era skynet dimulai, manusia menjadi proletar proletar yang diperas oleh kartel kartel borjuis teknologi yang beranjak menjadi bentuk neokolonialisme baru, MERDEKAAAAA....!!!

Tentu imajinasi ini menjadi rak mutu kalau terminator datang terus ngebut pake truk sak onone mengejar anak sampeyan yang sipat kuping numpak brompit protholan di selokan Sayung Demak sana, kayak film terminator jadulnya cak Arnold itu, kira kira akan terlihat kemproh gluput ireng ireng lumpur tercampur limbah sembarang kalir karena si saluran tidak siap syuting sembari menanti proyek pengerukan saluran setahun pisan.

Beberapa hari yang lalu dikala trafik komunikasi sedang rame karena bagdan ini, tiba tiba wasap di hp tidak berfungsi secara celeng sekali, terpaksa apdet dengan rodo susah payah karena saya ndilalahnya berada di daerah remote (dan belum berhasil sampai sekarang hahaha...) ada pemberitahuan bahwa wasap sudah nggak support windospon mulai desember nanti, tapi masih support utk android yg seri sekian dan ios yg seri sekian, menyusul pesbuk dsb, ya proletar kayak saya tentu mikir wah ada 7 bulan persiapan untuk tuku hp baru.

Ndadak kudu tuku???

Adakah informasi pembagian hp gratisan?? Kecuali yang member korporasi yang dapet dum duman hp sebagai aset, tentu tak ada.

Pengguna symbian pernah kena hal ini, Blackberry juga, selain pengembangan yang berbiaya mahal ketiadaan support apps populer membuat os ini ditinggalkan, pasar senantiasa bergerak, yang tidak survive tentu terlibas. Mengarahkan konsumen untuk menggunakan atau membeli produk baru adalah celah yang bisa dimonopoli melalui persyaratan pembaharuan perangkat, jika tidak diperbaharui, tentu kejadian celeng sekali yang saya alami akan anda alami juga. Tak ada disclaimer layaknya peringatan di bungkus rokok saat kita ngopdat ngapdet apps itu. Addict terhadap salah satu apps akan membunuhmu.

Gampang dab, tinggal cari alternatifnya... Semudah itu kah? Bisa iya bisa tidak. Konteks apps untuk bekerja macam msword, cad hingga msproject tentu banyak kw nya secara limitasi penggunaan lebih ke efisiensi biaya. Lha kalau medsos? Dimana interaksi antar pengguna jadi market place nya? Anda yang pake viber, tak akan bisa berinteraksi secara maya dengan pengguna wasap. Ini ceruk pasarnya.

Saya teringat sekitaran 7-8 th lalu saat wasap belum semasif sekarang, tak banyak klintang klinting notifikasi di hp saya, kecuali mandor yang mencari saya karena berbagai keperluannya, oh iya foreman saya sudah cukup canggih dengan berbagai macam kepemilikan hp saat itu, untuk menyiasati kebutuhan komunikasi lapangan yang beragam. Hari ini? Pak pulisi di berita sering sekali mencomot orang akibat berita hoax dari grup wasap. Medsos menjadi perantara dialektika berkehidupan. Propaganda, desepsi dsb dengan mudah di lakukan di medsos dengan target pengguna Ekslusif tadi. Apps tadi bertransformasi di lini kehidupan, menjadi indera tambahan untuk anda, menjadi mata, rasa dan cangkem anda yang baru.

Apakah era skynet akan segera dimulai? Hahaha iya sudah dimulai sejak apps gratisan minim fitur non komersil diakuisisi menjadi bagian dari produk komersial.

Ini berlaku umum tak Cuma di wasap. Perang teknologi ada tendensi sebagai perang kebutuhan, neokolonialisme teknologi sedang bergaung, mengarah ke kulturstelsel apps.. Hahaha...

Siapa yang akan menyelamatkan sampeyan dari neokolonialisme teknologi ini? Apakah butuh konfrensi asia afrika? Apakah butuh Syarekat Dagang Islam? Atau justru bisa diatasi dengan khilafah? Mbuh bro.. Tuku congyang rak wis nek bingung, segala masalah teratasi dengan kekuatan congyang dan gitar..

Kalo sampeyan mau menilik lebih jauh, generasi teknologi mobile phone cukup lambat, rata2 kisaran windu ke dasawarsa, amps itu gen 1 mulai umum digunakan di awal th 90an, didevelop kisaran 80an, sebelumnya 0G imts itu di develop sejak th 60an, hari ini sampeyan dengar perang 5g, tapi hari ini juga hp nokiyem triple 3 yg pake 2G yg sangar tenan masa itu, masih bisa saya pake. Entah untuk yg amps, kalaupun bisa, kresek2nya yg bikin geli kuping lebih masif atau tidak.

Saya lebih prefer nelpon dan sms kalau gak keangkat, entah kenapa saya juga tidak tahu, rasanya seperti prosedur otomatis tangan ketika butuh komunikasi pake hp, mungkin terbiasa saja, karena saya bukanlah penikmat fashion hp, atau musti high end gadget kayak james bond, sejak awal 2000an baru 5 kali, dengan urgensi penggantian karena jebol atau ilang. Jadi saya kira kehidupan saya gak sebergantung itu dengan apps. Kalo medsos ga bisa ke cangkok di hp saya sekarang, ya sudah masih ada fitur lain seperti nelpon, sms dan email, atau yg lain saya lebih prefer web base, gak ngebak bak i memori.

Traffic komunikasi besar seantero dunia, apakah benar2 pro bono? Untuk apa? Apa yang didapat dari effort berbiaya besar itu? Sampeyan yang antek neokolonialisme teknologi lebih bisa menjawab, kaum sudra seperti saya hanya bisa meratap dan menunggu curahan congyang hehe...

 

Gambar comot dari www.legeeks.org

 

 

tememplek by endik kurang luwih jam 3:56 p.m., > ,

Bukan kaleidoskop

2018 memang tahun yang spesial buat saya, dari momen yang menyenangkan hingga yang blas enggak. Saya nggak mau bahas satu satu karena ini bukanlah kaleidoskop tapi Cuma coretan sampah seperti biasanya.

Berawal dari foya foya menikmati tabungan hasil profit nglayap tahun kemarin, komunitas baru, kenalan baru dan beberapa propose proyek sebuah bisnis plan baru untuk mengekspansi usaha kontraktoran milik sedulur, saya menikmati euforia itu dengan sangat barbar. Iya, saya melakukan segala sesuatu yang baru yang belum pernah saya lakukan bahkan memang nekat dan merasa semua ada didalam genggaman, bahasa marokonya adalah "hajar nda..",

Tentu tak Cuma di sinetron yang ada antitesis dengan semua itu, ketika suasana mulai stagnan dan menjadi rutinitas harian yang sebenarnya tak bisa dilihat juga hasilnya karena terasa menjadi hal yang biasa biasa saja, tiba tiba saya terbangun oleh seruan simbok, "Ndik ki lho Bapakmu tibo, bar ketabrak, kae sing nabrak ng ngarepan.". Ya rutinitas Bapak tiap sore adalah pit pitan, olah raga yang murah meriah dan tidak membosankan. Hanya hari itu olah raga menjadi lain.

Tak perlu cerita panjang tentang itu,masalah sudah selesai, tentu polemik banyak, ngosek kawasan pesisir yang terkenal keras, polemik dengan oknum aparat yang berwenang yang masih sedulur, dengan rumah sakit dan dengan keluarga lain, semua karena saya sih, ndablek, keras kepala, suka ribut secara senyap dan licik you name it. 9 hari terbaring di ICU dan saya merasakan tidur di teras depan ICU dengan segala deg degan nya ketika ada bel pemberitahuan. Tepat 2 minggu terbaring dan 2 minggu pula menjelang ultah yang ke 72, buku yang bernama F Siswoyo itu ditutup oleh Penulisnya.

Terima kasih atas dedikasi selama ini buat beliau sebagai Ayah, buat Penulisnya yang menyajikan cerita yang baik via buku itu buat saya, dan buat mereka mereka semua yang terlibat yang membantu menutup, memberikan sampul dan membantu menaruh di rak yang bisa suatu saat saya baca lagi ketika rindu.

Saya tak mau mengatakan itu sebagai titik terendah, karena saya masih bingung menghadapi hal itu sebaiknya dengan suka cita atau dengan kesedihan. Semua bisa diraih dengan sudut pandang tertentu kan. Saya anggap itu ada di ttik nol saja.

Berkisaran dengan itu sampai di sekitar 100hariannya saya justru mengalami hal hal yg lebih nadir, entah akibat ribut berkepanjangan tadi, Ekspektasi pekerjaan yang tak sesuai fakta, deal deal yang gagal dan yang paling parah adalah akibat komplikasi semua itu, hari hari cupet

Melewati semester akhir tahun ini sedikit demi sedikit aktifitas mulai bergairah dan memberikan hasil, tawaran proyek mulai ada beberapa yang nyantol, dari yang komersil, yang sosial, yang berbasis komunitas dan beberapa lainnya yang lebih berat di sangga. Semua bisa jadi pijakan untuk mengawali tahun depan yg tinggal beberapa jam lagi datang.

Semoga jadi lebih baik ya buat bersama

Eh sedikit yang kelewat, biasanya ada yg protes kalo postingan blog ini nggak saru atau jorok atau lucu secara ngawur, itu semua hanya pilihan sudut pandang saja demi menggaet minat baca anda, kebetulan untuk yang ini saya tak berharap anda baca

 

Sent from my Windows 10 device

 

tememplek by endik kurang luwih jam 8:32 p.m., > ,

Setan eyd

Beberapa malam yang lalu sepulang nongkrong, masih belum ngantuk tentunya nonton tv jadi kegiatan standar mbok menawa ada film yg bagus meski mungkin telah diputer berulang ulang.

Pejat pejet tuts remote tv tentunya tidak menimbulkan tone harmonik suara layaknya piano atau pesawat telpon, terpaksa dalam hati pun ikut menelurkan tone umpatan yang saya dengar sendiri tentunya apalagi acara tv yang tersaji di semua stasiun saat itu tidak begitu sesuai dengan minat.

Tuts remote tv berhenti pada suatu acara mistis di sebuah stasiun ternama nasional, awalnya tak begitu memperhatikan kecuali backing suara standar mistis yang blas tidak jazzy dan tentu ketok digawe ngaget ngageti ben rodo medeni itu. Yang menjadi perhatian adalah saya tahu tempat itu, sedikit memahami karena pernah blusukan dan tahu secara ala kadarnya tentang sejarah di tempat itu.

Singkat cerita setelah eksplorasi yang cuma cerita karena yang diceritakan blas gak tampil di layar tv kecuali ujug ujug glodak glodak yang tentunya entah disengaja atau tidak disorot secara telat dengan perubahan ala kadarnya dengan bumbu2 cerita itu. Tibalah saatnya interaksi, logat jawa si empu yang membuka pada awal acara tentunya menegasikan sebuah kultur yang terbangun di sekitaran tempat itu. Catat itu!

Relawan yang entah dari mana datangnya ujug jug ngolat ngolet layaknya pencak silat yang dimainkan secara slow motion dengan mata melotot dan pringas pringis serasa tercekik whatever lah it called kesurupan. Ya ya ya standar prosedur gerakan kesurupan. Setelah si relawan diraupi dengan sedikit komat kamit oleh paranormal yang mengikuti acara tsb si relawan ujug2 ngececeng sedikit kejet kejet tapi lebih santai daripada ketika dia njoget ala buto cakil tadi. Setelah bisa dikontrol oleh paranormal etunya dimulai interaksi wawancara, secara gamblang paranormal bercerita tentang tersangka penyurup si relawan tadi, seseorang dari spesies antah berantah yang nongkrang nongkrong disitu sejak lama. Anyway itu bangunan dibangun sejak jaman kolonial dengan fungsi sebagai pabrik, namun tidak dengan langgam kolonial tenan atau art deco, sejatinya perpaduan vernakularisme kolonial, jawa dan tionghoa dipadu dengan langgam waton kothak koyo pabrik yg secara arsitektur mungkin simplikasi dari kebutuhan aktivitas yg dibikin oleh si empunya saat itu. Gak perlu tak attach fotonya ya, mundak ono sing tersinggung dengan omyangan saya di postingan ini. Dari kultur yang terbentuk di sepanjang acara dan cerita si dukun identitas si setan terkuak, buruh yang tewas sekian puluh tahun lalu saat masa kolonial Belanda.

Saat saat yang ditunggu adalah cerita si setan, tentunya tidak fair dengan cerita sepihak dari si dukun atau tukang jogo bangunan atau cerita si host acara. Di acara setanpun tetap butuh second opinion meski entah untuk apa.

Si host lalu menanyai si setan, uluk salam ala agama di jawab fasih meski si dukun tak menanyai agama si setan tadi lebih dulu. Ketika setan mulai mengeram lalu mulai berbicara tak jelas tata bahasanya yang intinya tidak terima diganggu, what? Bukannya beda dimensinya? Setelah permintaan maaf dan dimulai wawancaranya, si setan mulai bercerita. SILIIIIITTTTT...!!!!! Si setan bercerita dengan bahasa Indonesia.

Saya kira tak perlu mensinkronisasi cerita si setan dengan permen No. 46/2009 atau No. 50/2015 tentang ejaan bahasa, tapi logika say menarik kesimpulan tim kreatif acara tbs perlu banyal belajar, bukan belajar berkomunikasi dengan alaming lelembut, namun lebih ke konteks budayanya. Lepas pro kontra tentang alam gaib yang tak bakal ketemu bila kita telisik materi hingga perhitungan kuantumnya, gak lucu semisal acara setan dengan setting di Medan misalnya ujug2 setannya berbahasa Bali, meski ini masih bisa didebat lagi kemungkinannya.

Belasan tahun lalu saya pernah tongkrang tongkrong di Lawang Sewu, sebelum well organized seperti saat ini, modal kenalan, ngopa ngopi, ngekak ngekek dan ngudad ngudud memberi kesempatan saya untuk ngancani berselancar di terowongan bawah, tamunya dari univ ternama di Semarang, setelah mereka ketipu makelar guide dunia lain, dengan kemesakkean yang mendalam, para guide yg memang mengelola disana membolehkannya dngan berat hati tentunya, (tanpa benefit langsung buat mereka soalnya) kami bertiga (saya, teman kampus dan seorang lagi pemuda guide disana yg alkrab dngan kami) ditinggal buat nungguin para tamu yang mubeng nganjret rak bar bar menelanjangi setiap lorong basement lawang sewu itu. Berhubung cadangan rokok tinggal sebatang si kawan tadi pamit ke atas buat cari rokok tentunya dengan wanti2 kalo apa apa teriak saja. Oke.

Rokok yg tinggal sebatang itu kami hemat untuk diudud berdua, tepat di tempat lokasi uji nyali dulu yang fenomenal di stasiun tv itu. Ada penampakan? Enggak, yang ada ya siluman celeng menampak di diri teman karena sudah bosan menunggu dan kehabisan logistik bakaran mulut. Celang celeng dia mulai bersenandung.

Tak perlu detail saya cerita, karena bukan celang celeng itu fokus yang mau saya ceritakan. Tapi sama seperti acara tv di atas. Mahasiswa yg sedikit2 ngobrol dengan saya itu menunjukkan bidang logis yang dia pelajari, namun entah bagaimana mereka memiliki penasehat spiritual yang paten bersama keneknya, saya katakan paten karena entah mengapa mereka seperti tercengang dan menurut saja saat si dukun bercerita tentang hal yang tak kasat mata itu, benar benar tak kasat mata wong saya enggak paham juga tentang apa apa yang dia ceritakan, lha wong saya nggak lihat blas. Entahlah,, siapa sih gue,, seperti kata kata gaul anak muda etiopia.

Tibalah setelah kegiatan menunggu yng membosankan itu, mereka beranjak setelah kami mau tinggal naik, " sik mas.. Sik mas.." kami jawab "ngantuk mbah..",, "udude entek..", teman acuh tak acuh beranjak sambil memamerkan tato naga di kakinya dengan modal senter, entah kenapa kami masih bertemu dengan mereka di deket tikungan jalan pemuda, entah kebetulan atau tidak ngepasi si kenek kesurupan, kami yakin ethok2 saja, kenapa di luar di trotoar bukan tadi di dalam? Sebenarnya di balik pagar acara kesurupan itu ada monumen, sebuah tugu berisi tulang belulang yang tak tau siapa, entah pejuang entah pesakitan jaman pertempuran 5 hari, sekarang terlihat karena pagar terbuka tapi mereka tak tau saat itu, kami iseng berhenti, si dukun rasanya agak jengah dengan kehadiran kami tapi yo wis kebacut hahaha.

Interaksi si demit yg nyurupi itu dengan si mahasiswa tak begitu jelas, dan sangat standar, yakni dibuka dengan kaku kayak robot dan menggeram, karena udud kami penuh setelah beli kami pun ikut nngkrong disitu, sekalian mengiyakan seorang mahasiswa yang ramah mengajak kmi bergabung, sebagai referensi mungkin.

Demi kontekstual demit, ceritanya si setan yang nyurupi adalah tentara belanda setelah tadi scara singkat nonik belanda juga sempat meski sebentar. Inilah letak salahnya obrolah ala menir londo mencari si pitung dengan bahasa campur jowo dan logat di londo2ke itu benar2 menggelikan, kami memang tak ingin mengganggu sampai pada titik si mahasiswa itu menawarkan kami untuk berinteraksi, tenanan ki mas?

"guddendag mevrouw..?" sapaku membuka, asal sampeyan tahu jam sudah mendekati pukul 12 malam dan si setan itu tentara laki laki.

"hrrmmmhh.." katanya mengeram

Lagi saya tanya, "ni hao ma mevrouw?"

Benar tebakan kami, dia menjawab dengan mengeram saja, asu tenan lucunya juga para mahasiswa itu serius mendengarkan kami. Hendak lanjut pertanyaan saya tiba tiba teman menjawil, "wis wis.." sambil berbisik dia mengajak lanjut jalan.

Mahasiswa itu entah siapa namanya lupa tapi seangkatan dengan saya kalo tak salah ingat, dia menanyakan yg saya tanyakan dan kesan kami, teman langsung jawab, "ah mbuh mas, ngono ki adang gelem komunikasi kadang ora."

Setalelah pamit dan berpisah, teman baru bilang, aku disangoni dukune mau 20 ewu nggo tuku rokok pas kowe mulai takon setane bar dikon karo mase." Hahaha, baiklah..

tememplek by endik kurang luwih jam 11:51 p.m., > ,

Riyayan

Otak atik bahasa ala cara jawa itu terlalu biasa, othak athik gathuk bahasa kerennya, lebaran bisa lari jadi laburan, leburan sampai liburan, monggo njenengan tahu benar olah cangkem ala filosofis yang demikian, jadi tak perlu lagi saya nulis itu.

Sebenarnya saya juga ndak punya bahan buat nulis keseharian menjelang lebaran, blas nggak ada yang heroik ataupun nggegirisi untuk jadi cerita, njenengan pula mungkin lebih punya cerita, seperti teman jagongan seorang bakul dawet yang bercerita mendapat hadiah lebaran, bukan aju atau sarung baru, melainkan wasir yang mampir setelah 7 tahun berlalu, alur cerita menjadi seru ketika dia mencoba mendefinisikan ciri ciri penyakitnya pasca sembuh tentunya, semisal kalo kentut berbunyi nyaring single tone, tentunya sang silit masih kencang, sebaliknya jika stereo multiple nada tentunya si silit sudah memble, atau cerita teman, penyuluh pertanian entah dari kelompok tani mana, bercerita tentang pupuk, kartu tani hingga honda tril jatah warna coklat tahun kawak, yang tiba tiba cerita entah kenapa bergeser menjadi strategi finansial ala motivator dengan contoh dirinya sendiri untuk membeli moge tua idaman, sayangnya gagal karena malah tuku gebyok.

Tiap orang punya cerita masing2, ayaknya sebuah perjalanan dan entah sengaja atau tidak, persinggungan atas nama kebaikan itu acap kali terjadi. Tak perlu diperdebatkan, karena tiap orang memiliki sekuensnya masing masing

Sugeng riyayan kisanak

 

tememplek by endik kurang luwih jam 7:03 p.m., > ,

sakderengipun kawula nyuwun agunging samudra pangaksami dumateng panjenengan sami, sesepuh pinisepuh, bapak bapak saha ibu ibu, mas mas saha mbak mbak ingkang kersa mampir dhateng papan kawula menika, menawi wonten kalepatan, sedaya klenta klentunipun bilih tumindak lan atur, nyuwun boten dipun dadosaken penggalih, mugi mugi Ngarsa Dalem Sing Ngecat Lombok paring berkah..