KONTEKSTUAL BUDAYA ARSITEKTURAL AKIBAT PANDEMI GLOBAL COVID19

Sekilas pandemic covid19

Mungkin sedikit flash back ke belakang, dimana ada berita secuil di penghujung 2019 di negeri Wong Fei Hung sana, sebuah penyakit baru ditemukan yang masih teridentifikasi nyaris serupa dengan flu. Kita nggak usah membahas tentang apa dan bagaimana, meski kita juga sama sama tahu bahwa di sana ada bank virus yang entah diakui atau tidak. saya tak ingin kita terjebak dalam konteks bahasan yang bergeser, iya saya Cuma kawula alit penuh angan angan nggak jelas, sama sekali bukan Ethan Hunt. Beberapa bulan setelah itu sekonyong konyong dunia kaget dengan penyebaran yang sangat signifikan. Penyakit dengan pola penyebaran yang cepat dan mematikan, piye jal? Opo rak nggilani lan nggegirisi?

Pola  hidup manusia kontemporer adalah pola kehidupan global tanpa sekat. Pagi ini anda keta kete di Jakarta, esok sore saya telpon anda untuk sekadar ngajak jagongan, ternyata anda sudah di Cordoba, melanjutkan keta kete di negri orang, opo rak asu? Coba bayangkan pulsa saya yang disedot kapitalis komunikasi. Ini hal yang jamak untuk sebagian besar masyarakat modern. Hari ini anda dimana, esok anda dimana. Bagaimana dengan virus itu? Sama, virus itu Cuma parasit yang numpang ditubuh anda. Anda sama sekali tidak bebas virus ketika anda mulai hidup di dunia. Camkan itu. Hari ini virus itu keta kete di negri God of Gambler, maka esok hari virus itu bahkan mungkin keta kete di depan rumah anda.

Kegagapan berjamaah antar negara ini sering membuat absurd bagaimana untuk menanggulangi, dari expert angkat bicara, hingga Mbah Kaji tetangga saya ikut urun rembug, gerimis gerimis sore ini sambil menikmati gedang goreng dan kopi kental yang gulone sithik tok setengah sendok. Mana yang benar, tentunya saya lebih percaya statement para expert ketimbang statementnya Mbah Kaji karena dasar ilmu simbahe itu cuma mbecak. Pemerintah tentu ada di depan para expert dari kesehatan hingga expert kebijakan publik. Untuk mengambil keputusan mana yang tepat melihat demografi penduduknya, tentu dengan segala resikonya. Expert menjadi rujukan, namun pergerakan tetap based on pemerintah. Ini sama di semua negara. Apalagi konon katanya obatnya belum ditemukan. Terus apa yang dipakai buat mengobati mereka yang terlanjur kena? Tentu berdasar symptom yang ada. Prinsipnya sesuai pepatah negri maroko, do something atau do nothing. Tak Cuma itu, memetakan pola penyebaran oleh masing masing negara dilakukan untuk memitigasi resiko penyebaran yang lebih luas dan diassesment berjenjang. Sampeyan mungkin tidak positif terjangkit, tapi hanya memungkinkan terjangkit karena ada di ruang dan waktu yang sama dengan si terjangkit. Potensi ketularan tinggi, begitulah.

Benarkah tidak ada yang kita lakukan selain hanya harap harap cemas saja sambil menunggu duluan mana, giliran antrean anda untuk terjangkit atau vaksin? Tentu tidak, beberapa expert mengatakan bahwa penyakit ini dapat sembuh dengan imunitas tubuh penderita yang kuat. Beberapa kasus meninggal dikarenakan penyakit ini memperparah situasi kesehatan penderita yang terlanjur kompleks, sehingga bisa diambil kecenderungan korbannya adalah mereka yang usia lanjut, memiliki penyakit kompleks dan anak anak usia dini yang memang rentan karena imunitasnya masih perlu ditopang. Akhirnya bahasannya adalah bagaimana memperkuat imunitas dan mencegah penyebaran.

Dewasa ini arah untuk hidup higienis sebelum ada pagebluk ini cukup santer bergaung. Sampeyan sampeyan yang terbiasa kemproh tentu masih ingat dialektika hidup higienis ini. kurang lebih begini, terlalu higienis akan menurunkan kekebalan tubuh karena membunuh bakteri yang menyumbang imunitas. Pro kontra itu teredam dengan adanya pagebluk ini, seakan menjadi jawaban absolut. Benarkah? Setidaknya ada penelitian dari expert bahwa virus ini diluar carrier akan mati dalam sekian waktu dan juga akan mati dengan cairan antiseptic dan desinfektan tertentu. Hari ini, anti septic dan desinfektan bikinan pabrikan itu benar benar langka dipasaran, karena penggunaan yang masif.

Adapula expert yang mengatakan peningkatan imunitas dengan kembali ke kearifan local. Kearifan local yang mana? Empon empon. Ya, sudah menjadi rahasia umum bahwa negeri kita yang tropis ini mempunyai berjuta tanaman obat. Zat curcumin menjadi primadona hari ini. tentu berujung dengan langka dan mahalnya komoditas itu di pasaran.

Adalagi expert yang menegaskan bahwa pembatasan interaksi sosial secara intim diperlukan, eh tulung bedakno interaksi sosial secara intim dengan hubungan intim yo, rak sah mesam mesem sampeyan iki nek krungu sing intim intim. Pembatasan interaksi sosial secara intim ini berjenjang melalui pembatasan jarak sosial, dengan jarak minimum 1 meter optimal 2 meter, memaksa masing masing penduduk mengurangi aktifitas sosial dan publik, hingga ke tahap paling ekstrim, lockdown wilayah, bahasa keren dari karantina wilayah atau sekalian darurat sipil. 

Tiga kegiatan pencegahan ini menjadi trend untuk masyarakat modern negri kita. Benarkah ini efektif? Balik ke pepatah maroko tadi, do something atau do nothing. Waktu yang menjawab. Kenapa nunggu waktu? Opo rak kesuwen? Bisakah potong kompas nanya ramalan ke mbah dukun saja? Terserah sampeyan sajalah.

Perubahan gaya hidup

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa negri kita ini negri yang kompleks, punya 270 juta kepala dengan kapasitas isi (yang harusnya sama tapi ah sudahlah), pola pikir, kebutuhan, rencana, imajinasi, ego dan goodwillnya, masih kompleks lagi dengan ratusan suku dengan latar belakang budaya dan pola pikir komunalnya, masih lagi dengan pola pikir dan kebutuhan agenda agenda komunal diluar kesukuan, entah pekerjaan, tongkrongan, makelaran atau apapun. Kompleks, sangat sangat kompleks, ngelu ndase pokoke. Ada prinsip dari negri Somalia, you can’t please the others.

Sampeyan tentu lihat ada sebagian masyarakat yang ribut ribut bilang stay at home, tetapi ada juga yang malah tongkrang tongkrong gak jelas, ada yang dirumahkan dari sekolahnya atau dari pekerjaannya agar mengurangi intensi berkerumun untuk mencegah penularan, ada juga yang malah berfikir ini liburan lalu nglencer jalan jalan entah kemana, kebhinekaan itu terasa kental. Perkara goblok atau tidak itu soal lain meskipun kegoblokan itu bagian dari kebhinekaan juga, hahaha…

Terkadang soal pembatasan interaksi sosial ini menjadi simalakama ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa tidak semua orang menerima upah dan memiliki tabungan. Sampeyan yang bekerja secara informal tentu menyadari benar hal ini. inilah kenapa pembatasan interaksi sosial lebih dipilih, sedangkan karantina itu lebih bersifat himbauan. Sampeyan dihimbau, dianjurkan, tapi kalau kepekso ya sudah apa boleh buat. Garis bawahi kata kepekso tadi.

Saya tidak mau berkutat membahas sosiologi atau antropologi masyarakat. Pada akhirnya semua merujuk pada sebuah kesepakatan awang awang atau konsensus imajiner bersama yang masyarakat harus A, harus B, harus C, dsb demi menangkal pagebluk ini. secara demokratis ini lebih acceptable ketimbang memaksa penduduk dengan mengeluarkan maklumat darurat sipil atau apalah. Kita tahu benar, tidak ada sebuah kebijakan yang bisa menyenangkan semua pihak.

Konsensus bersama yang secara tak sampeyan sadari didorong itu adalah tentang tiga hal pencegahan di atas, hidup higienis, peningkatan imunitas dengan kearifan local, dan penanggulangan sementara dengan pembatasan interaksi sosial. Selebihnya pemerintah akan mencebokinya, seperti mengobati penduduk yang terjangkit, menanggung resiko penduduk dengan keterpaksaan situasi tadi, penduduk abai hingga penduduk bebal.  

Pagebluk ini benar benar menyadarkan semua orang bahwa setiap individu adalah rentan, tak peduli anda keturunan ningrat atau kelas pekathik, sugih atau kere, waras atau gendeng. Tetapi tetap perbedaan mereka adalah pada pola pemenuhan kebutuhannya.

Masyarakat akibat pagebluk ini akan menjadi lebih selektif akan segala kebutuhannya, kaum the have akan memenuhi kebutuhan mereka yang berkembang pada printhilan printhilan yang tersier, yang berorientasi pada apa yang benar benar mereka butuhkan kedepannya, masyarakat menegah akan lebih efisien dalam memenuhi kebutuhannya termasuk rancangan kedepannya, masyarakat bawah akan seperti biasa dengan segala keterbatasannya, bedanya mereka hanya akan stay aware.
Kuncinya adalah sedapat mungkin efisiensi dan higienis. Entah dilakukan secara komunal maupun secara mandiri.

Pola interaksi sosial tetap tidak banyak berubah, perbedaannya komunikasi jarak jauh lebih menonjol karena lebih efektif untuk sementara ini, benar benar membalikan konteks efisiensi komunikasi nircangkem (tidak direct via cangkem to cangkem), yang selalu mejadi pro dan kontra memasuki era four point o tempo hari. Itu dari cara berkomunikasi saja. 

Dari sisi yang lebih luas, perkembangan nircangkem tadi juga menjadi dasar interaksi komunal untuk berkembang juga. Beberapa waktu lalu ada istilah, kerja tidak harus six to six, tidak perlu formal yang penting hasilnya, tidak perlu ngantor, bisa dimana saja, apapun itu sempat menjadi trend untuk beberapa kalangan. Hari ini Work from home (WFH) atau belajar di rumah menjadi sebuah keputusan logis untuk mencegah penyebaran pagebluk, meski hal ini disertai konsekuensi interaksi komunal masuk ke ranah privat. Ada banyak dari sampeyan yang kudu menjelaskan secara interaktif, video call lebih efektif dan efisien. Problemnya, tidak semua rumah memiliki ruang untuk bekerja atau belajar, anda harus video call di mana kalau dirumah? Kamar tidur? Ruang tamu? Kamar mandi? Dimanapun bisa. Perkara ada yang ujug ujug ada yang mbengok, nduk kumbahane diangkati,  atau nduk iki sempakmu kok sowek,atau yang tak kalah heroik, bakul blanjan mbreyen mbreyen dan nglakson nglakson sambil memanggil semua ibu ibu dengan sebutan standar, Bu Kaji, iki teronge gedi gedi itu soal lain. Problem dari semua itu adalah acceptable tidak? tentu dalam masa sulit semua oke sajalah. tetapi sampai kapan pembatasan ini? jika ada resiko pembatasan seperti ini lagi kedepannya lalu bagaimana? 

Dari sisi mereka yang berdasi dan bersafari, adanya pagebluk ini seperti membuat gagap bahwasannya kesiapan yang digadang gadang itu belumlah cukup. Mereka seakan tergopoh gopoh untuk
mengeksekusi segala macam pemenuhan kebutuhan menceboki pagebluk ini. kuncinya tepat guna, cepat, instan dan menomor seratuskan semua hal yang berkaitan dengan estetika. Iya ini darurat.

Meminjam kata kata tokoh politik jaman revolusi, Jawa adalah kunci. Iya Jawa adalah pulau dengan populasi yang sangat padat, tingkat mobilitas tinggi dan arus lalu lintas global yang tinggi pula. Jawa sangat rentan, yang tak kalah rentannya pintu pintu negara yang lain, seperti Batam, Bali, Manado, Medan dsb. Berkaca dari kebutuhan mobilitas yang tinggi yang berpotensi membawa serta sang agen pagebluk, tak salah kalau kita membahasakan Kota adalah kunci. Apakah desa tidak rawan juga, bukan begitu, desa rentan dari penularan domestik. Tak mungkin Mbah Prawiro yang masih ngeyel membajak sawah dengan kerbau itu, numpaki kebone ke tanah Arab sana.

Kota dengan masyarakat pembentuknya cenderung memiliki traffic yang tinggi akan mobilitas dan kepentingan. Kota lebih rentan terhadap pagebluk ini. apakah kota yang identik dengan kehingar bingaran lampu itu dapat hidup higienis? Tidak. kota tidak dibentuk oleh masyarakat modern saja. Untuk beberapa kalangan mungkin iya, tapi tahukah anda berapa orang yang masih bertempat tinggal di bantaran sungai? Di kampung kampung padat penduduk? Kita tak membahas antropologi kota, tapi coba kita lihat sisi lainnya. Tentang manusia sebagai makluk sosial menurut buku kewarganegaraan dulu. 

Berapa lama anda mampu betah tinggal di dalam rumah. Ada banyak jawaban dari yang diplomatis karena keadaan atau justru malah ungkapan curhatan tentang hal ini, dari bosan hingga frustasi karena ribetnya bertemu anak seharian. Anda pilih jawaban anda sendiri, saya cuma mengetes tak lebih dari 100 orang yang tinggal di 5 kota sebagai sampling. Tidak ada berapa lama waktu mereka betah, namun intinya mereka tak akan melakukannya kalau tidak terpaksa. Kalaupun mencoba menikmati setidaknya mereka menempatkan gadget dan tetangga dalam berinteraksi. Gadget tentu anda tahu bagaimana mendefinisikan pola interaksinya, tinggal pencet tombol selesai selama ada pulsanya. Bagaimana dengan tetangga? 

Seberapa banyak penduduk kota yang mengenal tetangganya. Dalam konteks tata ruang ada yang namanya segregasi. Yang diartikan pergeseran komunal untuk membentuk esklusifitasnya tersendiri. Anda yang tinggal di perumahan dengan pagar tinggi tinggi tahu tentang ini, di bawahnya ada segregasi berdasarkan kemampuan financial. Perumahan berjibun banyaknya di pinggiran kota Jakarta, untuk mereka yang bekerja justru di Jakarta. Anda mungkin mengenal tetangga anda, percakapan anda dengan tetangga anda bisa jadi antara rentang tiap hari hingga seminggu sekali, ini untuk yang tetangga dekat, di kiri kanan rumah saja. Waktu anda habis di jalan, di ruang ruang tunggu peron stasiun atau di tempat nongkrong untuk sekadar menunggu jalanan yang lebih sepi. Kurang lebih sama untuk masyarakat bawah di perkampungan padat kota, keuntungan lebih cepat sampai rumah dibandingkan yang dipinggiran membuat waktu berinteraksi lebih lebar, selebihnya sama saja, ini hanya menempatkan jangkauan mobilitas lebih prioritas dari kesehatan lingkungan secara komunal.

Hari ini anda diam dirumah entah WFH, entah belajar di rumah, atau malah ngirit modal karena lapak dagangan lagi sepi? Sama saja, anda lebih mempunyai waktu berinteraksi dengan lingkungan anda lebih luas. Pilihannya apa? Nongkrong di tempat tongkrongan, riskan. Ngobrol di ruang komunal  apabila ramai juga di oprak oprak pak polisi atau Pak RT/RW. Tetangga andalah yang paling gampang jadi
sasaran. Saya mencuri dengar obrolan beberapa tetangga yang lucu karena nggak begitu nyambung tentang korona, dede atau mepe awak, dsb. Peserta obrolan gak jelas itu adalah seorang pegawai swasta yang punya jabatan cukup tinggi di kantornya, seorang pns, seorang pedagang tenda kaki lima ayam bakar dan seorang pensiunan swasta. Perbedaan latar belakang membuat obrolan itu terasa lucu namun mengasyikan dengan kesempatan masing masing untuk menjadi dominan karena jadi bergeser sangat jauh dari tema di pertanyaan awal. Tak terasa adzan dhuhur menjelang dan mereka bubar. Obrolan itu ada di teras rumah masing masing. Jadi cukup membuat para peserta bengak bengok membuat saya penasaran dengan obrolan mereka. Ruang ruang interaksi ini tiba tiba ada di teras pemukiman ini, di atas jok motor, di pagar, bahkan di jalanan dengan sedikit gangguan motor lewat.

Kita coba bergeser ke lingkungan tempat Mbah Prawiro, keseharian penduduk desa pada umumnya tidak banyak berubah atas pagebluk ini. benarkah? Iya, kearifan desa yang membentuk interaksi komunal yang intim dan hangat acap kali tidak ditemui di kota, 10 km perjalanan via angkutan umum atau charteran doplak menjadi pemandangan yang biasa bila ada aba aba si kae nduwe gawe, padahal si kae itu Cuma teman bakulan di pasar, teman cangkruk antar desa atau cuma mantan tetangga.

Desa sangat rentan dengan kehangatan seperti itu. Hari ini kita belum banyak memiliki kasus dengan kluster di desa desa. Tapi apakah ada perubahan dengan perilaku desa itu apabila Negara api menyerang? Iya. Bahkan bisa jadi lebih parah karena kehangatan dan solidaritas itu yang menjadi tumpuan mereka bersosial, selebihnya urusan Tuhan.

Benarkah kita tidak bisa mengubah perilaku masyarakat desa supaya lebih higienis layaknya kota? Siapa bilang di desa tidak higienis? Konsep higienis itu sebenarnya sudah sama sama kita terima di bangku sekolah, cuci tangan sebelum makan, wisuh bar lungo, wudhu apapun itu sudah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dalam keseharian, meskipun Cuma sebatas sabun, bukan antiseptic branded seperti yang anda semprotkan berkali kali seperti saat ini. Perkara intensitas pemakaian tentu ini kembali ke kebutuhan, ketika mereka di daulat untuk wisuho bola bali mergo neng ndesamu wis ketekan pagebluk. Saya masih percaya mereka akan letheh kabeh dan boros sabun

Masyarakat desa kurang lebihnya terbagi menjadi tiga kelompok masyarakat pembentuknya. Kelompok pertama adalah kelompok desa penyokong kota, bahasa kerennya adalah sub urban, desa tipikal sub urban kurang lebih memiliki resiko perilaku yang sama dengan perubahan habit yang di perkotaan, sebagaimana mereka adalah masyarakat tipikal kota yang rak cukup duwite untuk bertempat tinggal di kota. Desa tipikal ini meski sedikit berada di luar selaput kota, akan berada melingkupi kota, dan memiliki kerentanan yang sama dengan kota sebagaimana masyarakatnya merupakan pembentuk kompleksitas aktivitas kota. Kelompok kedua adalah desa yang lebih banyak dibentuk oleh sektor formal tingkat bawah, kelompok desa ini sektor buruh pabrik menjadi pembentuk dominan mengalahkan sektor informal lain. Lokasinya biasanya bergeser sedikit ke arah luar dari desa penyokong, sebagaimana komplek industrial tentunya banyak yang tidak terlalu jauh dari kota besar. Kerentanan desa ini tidak terlalu jauh dari desa penyokong dimana factor mobilitas cukup tinggi, namun kecenderungan tipikal desa ini kerentanannya adalah di kelompok pagebluk domestik. Terakhir adalah desa dengan masyarakat informal yang lebih dominan, semisal desa pertanian, perkebunan, desa wisata alam dsb. Desa ini sebenarnya bisa dianggap cukup jauh dari kerentanan, namun tipikal kehangatan perilaku di
desa ini lebih tinggi dari kedua kelompok yang lain mengakibatkan kerentanan yang sangat tinggi bila ada satu saja messenger pagebluk yang datang. Kecenderungan kerentanan adalah penularan domestik. 

Problematika yang bakal ada adalah ketika pembatasan sosial dilakukan, terutama dengan pola WFH. Kerentanan desa akan menjadi lebih kompleks karena ketahanan sosiofinansial desa tidaklah lebih baik dari kota. 

Desa karakter sub urban akan melaluinya dengan kreatifitas yang beresiko. Kalau sampeyan masih bisa WFH dan menerima upah, lupakan itu. Tetapi ketika pembatasan itu memiliki impact pada finansial masing masing masyarakat sub urban akan menjadi urban dadakan dengan durasi waktu tertentu, misal pasar tiban, jangan berpikir tentang pasar sebagaimana pasar tradisional, tetapi lebih ke bakul rumahan yang buka lapak di depan rumah masing masing atau di simpul keramaian seperti perempatan jalan, depan komplek dsb. Lupakan sejenak perkara kerawanan pagebluk, mari kita lihat di sisi yang lain. Ini akan membuka ruang interaksi baru yang sebenarnya tidak pada tempatnya. Jika itu terjadi di dalam lingkungan privat, perilaku ini sedikit mengubah tata ruang privat menjadi lebih affordable untuk beberapa kegiatan terutama bakulan atau les privat. Jika perilaku ini dieksekusi di potensi traffic yang lebih tinggi, perempatan, depan komplek , ujung gang atau apalah, ini akan menjadi sebuah simpul keramaian yang justru menimbulkan berbagai macam resiko sosial dan lalu lintas. Alih guna ruang publik menjadi ruang interaksi yang berbasis financial resources akan mengubah tampilan desa secara umum. Kita bicara tentang gerobak kecil, meningkat menjadi gerobak besar, meningkat menjadi tenda dsb, belum lagi parkiran sepeda motor, hingga wujud desa pasca mereka bubaran? Seberapakah cukup ketika sisa sampah kegiatan hanya di sapu dan digebyur air? Seberapa cukupkah tampungan saluran pembuangan?

Ini juga berlaku untuk desa dengan masyarakat pembentuk dengan kegiatan formal bawah yang dominan seperti desa dominan buruh. Kecenderungannya adalah buruh masih tetap bekerja dengan durasi dan pola yang diubah, menyesuaikan optimalisasi kapasitas mengikuti tren penjualan yang ada, tidak hanya pembatasan sosial yang berpengaruh di sini, namun juga demand akibat pelambatan ekonomi merefer pada ekonomi global. WFH tidak banyak berpengaruh, karena pada sektor yang diampu kebanyakan adalah pekerjaan skill yang membutuhkan kehadiran fisik, seperti misalnya operator peralatan industry, pekerja padat karya dsb. Pembatasan interaksi sosial adalah keniscayaan, namun perampingan produksipun juga merupakan keniscayaan. Impact dari kedua problem itu adalah kreatifitas untuk mendapatkan pemasukan financial untuk kembali bertahan hidup untuk mereka yang tumbang akibat resesi pada suatu masa, yang diperparah oleh pandemic pagebluk. Kreatifitas yang diambil tentu yang paling mudah. Berdagang. Dimana? Ya dimana saja yang berpotensi untuk mendapatkan uang. Di perempatan, badan jalan, depan gang, pinggir pinggir jalan besar, bagaimana dengan permodalan, untuk sub urban penyokong kota dan desa buruh kurang lebih sama, hanya perkara masif atau tidak itu lebih ke seberapa malu mereka beralih setir. Desa buruh lebih menang di sini karena tidak ada status sosial yang menjadi banyak pertimbangan. Problem ruang interaksi di tempat umum bertambah dengan pola alih guna lahan menjadi ruang ruang perputaran financial.

Desa informal akan menjadi berbeda. Ketahanan mereka lebih kuat karena akses mobilisasi dari dan ke kota sangat terbatas, mengantar hasil budidaya ke kota itu berjenjang, tidak sekali jalan, hanya problem
kerawanan muncul ketika ada pergeseran komunal saja semisal, nunggu musim sambil bekerja serabutan di kota, kawula muda perantau desa ke kota baik untuk bekerja atau untuk belajar, dsb. Mereka bukan yang tolak balik tiap hari, namun hanya pada masa masa tertentu. Yang berpotensi untuk saat ini adalah musim mudik lebaran, atau justru mereka yang pulang karena ketakutan karena di kota atau malah dari luar negeri, sudah mulai dibatasi interaksinya hingga karantina wilayah sebagai antisipasi penyebaran. Ini sangat berbahaya. Mereka cenderung tidak tahu mereka ini pembawa pagebluk atau tidak. Pembatasan interaksi sosial tidak banyak berpengaruh, ketakutan dari kota tak banyak menular menjadi ketakutan desa. Perubahan akan terjadi apabila memang dari penduduk sudah ada yang terjangkit. Aktifitas akan seperti biasa, namun kecenderungan keramaian akan sedikit berkurang. Interaksi sosial yang intim hanya akan sedikit melonggar, temu sapa dan basa basi akan tetap ada, mereka akan melakukan segalanya sak madya, selebihnya serahkan ke Tuhan. Resesipun tidak banyak berpengaruh, karena sektor informal, terutama pertanian dan perkebunan adalah konteks yang berbeda dengan kapitalisme pasar global. Pertanian dan perkebunan adalah produsen consumer goods yang paling basic. Benarkah demikian? Desa dominan perkebunan non daily needs dan wisata mungkin sedikit berbeda. Polanya tetap mencari cara untuk bertahan hidup layaknya desa buruh, resesi sedikit berpengaruh dengan demand yang ada. Pola defaultnya tetap berputar di dalam, mereka akan berdagang namun dengan skala yang tidak semasif desa dominan buruh. 

Mengenai intense interaksi yang lebih besar secara umum di desa baik desa penyokong, desa buruh dan desa informal, jelas akan ada pergeseran pola interaksi yang disertai dengan pergeseran pola ruang. Pola ruang yang bisa kita prediksikan adalah peralihan ruang publik menjadi ruang komunal yang disemiprivatkan untuk perputaran uang.

Sedikit spesifik namun tetap juga menggeneralisasi, Desa di Jawa Tengah memiliki pola pembentukan desa yang tidak begitu kompleks. Strata penduduk tetap ada meski sedikit memudar, factor alam dan tradisi budaya masih ada dan sedikit banyak mengikat di beberapa desa. Lepas dari pola ruang dan sebarannya, tipikal problem ruang adalah sama mengacu pada geografi dan bentang alam, pola budaya sub suku yang membentuknya tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jawa Tengah cukup gampang untuk memetakan pola desa dan factor pembentuknya.

Mbah Prawiro tadi masih ngeses sambil duduk di tegalan sawah yang mulai berbulir, sebentar lagi musim panen, beliau lagi menghitung modal untuk memanen padi. Ketika saya bertanya tentang pembatasan interaksi tentu beliau tidak begitu merisaukannya. Sebentar lagi akan ada banyak orang berkumpul untuk mengerjakan dan merayakan panen padi.  Iya benar, tak cuma lebaran yang berpotensi mengundang orang jauh datang jauh jauh ke desa. Panen juga mengundang para tengkulak, para pedagang besar, dari mana saja, entah dari desa desa yang lebih kaya atau sekalian dari kota, bahkan jauh dari luar provinsi. Bagaimana dengan resiko penyebaran, “ Halah, kersane Sing Nggawe Urip mas..”.

Ini bukan tingkat ketidakpercayaan dan bukan pula meremehkan. Sikap pasrah ini adalah tradisi. Benar atau salah? Bukankah Tuhan juga tidak menyukai kalau kita pasrah pasrah saja? Saya tak bisa menjawab, saya bukan Tuhan. Kita juga tahu Mbah Prawiro tidak bisa WFH.

Ketika sebuah permasalahan terutama pagebluk melanda, kiat umum yang dilakukan sangat sangat sederhana, tidak keluar rumah, berdoa, dan tradisi. Ini seperti kita memasrahkan diri pada alam saja, namun percaya atau tidak terkadang memang alam akan menemukan jalannya sendiri. Pagebluk jaman simbah masih kecil dulu kurang lebih sama, Pak Mantri yang menjadi tukang cebok dari mereka yang tumbang akibat pagebluk. Bagaimana kita mengupayakan agar piyantun sepuh seperti Mbah Prawiro dan yang lainnya yang lebih rentan terhadap pagebluk di desa ini bisa aman?

Logikanya adalah menahan mudik, untuk kasus panen adalah mengupayakan panen secara local saja, dari dan oleh orang orang sekitar. Cukup sederhana. Tetapi yang jadi masalah adalah we are cannot please the others. Ini kurang lebih sama dengan desa desa lain yang dibentuk oleh penyebaran penduduk kota dan yang dominan buruh. Menahan mobilisasi, baik yang massif tiap hari bergerak hingga yang musiman seperti di desa Mbah Prawiro itu.

Memaknai perubahan gaya hidup

Setidaknya ada hal yang bisa kita sarikan dari uraian ngalor ngidul di atas, pagebluk ini menggeser perilaku masyarakat yang lebih aware terhadap intensi dan jarak keintiman interaksi, di kota kota kecenderungan untuk bekerja tak lagi secara formal dengan berpindah ke tempat yang lebih formal, namun juga bisa di mana saja, ruang interaksi sosial lebih terbuka luas seiring dengan dominasi waktu kerja yang menurun. Sebaliknya di desa terutama sub urban atau desa penyokong kota dan desa buruh, pola pikir kreatifitas untuk bertahan hidup ditengah kerawanan resesi dan pagebluk justru membuat perubahan signifikan terhadap bentukan desa, ruang ruang interaksi baru tercipta di titik titik yang strategis dalam skala desa tersebut, perubahan fungsi ruang akan cenderung lebih banyak dijumpai

Pergeseran makna ruang konteks ruang mikro hunian

Kita mencoba mengulik tatanan di ranah privat dulu. Di kota kegiatan bekerja di segala tempat ini akan menjadi hal yang jamak. Roda pekerjaan formal bergeser masuk ke dalam rumah. Rumah setidaknya dituntut memiliki ruang multiguna yang juga bisa untuk bekerja, mempresentasikan pekerjaan dsb yang dilakukan secara daring. Ruang ruang multiguna ini menjawab tantangan untuk pemenuhan fungsi baru di tengah keterbatasan ruang dan lahan. Si empu dan arsitek akan menjawab bahwa ruang ruang ini akan mencoba menjauh dari hiruk pikuk dinamika rumah tangga, namun tidak terbatas pada aktualisasi diri penggunanya. Ruang ruang plain apa adanya hingga ruang ruang penuh kosmetik yang berkaitan dengan pekerjaan dan intelektualitas, namun tetap setelah laptop ditutup ruang ruang ini akan menjelma menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga. Konsep ini akan menegasikan sebuah pola ruang yang atraktif dan layak untuk dipresentasikan. Desain Interior akan menjadi ujung tombak dari perubahan penampilan yang multiguna. Di lain sisi ruang interaksi komunal dioptimalkan di halaman rumah dengan keterbatasan yang ada. Setidaknya cukup untuk sekadar ngobrol dan minum kopi. Ini sebenarnya jamak di mana mana, namun bila menilik di perkampungan padat tengah kota, ruang seperti ini sangat mahal dan hampir tidak ada. Pagebluk ini menyadarkan bahwa interaksi sosial dengan tetangga masih dibutuhkan meski sekadar dari jarak yang tidak begitu intim. Mungkin bisa jika anda mengobrol dari teras di atas jok motor yang terasnya penuh dengan printhilan rumah tangga seperti tempat jemuran, namun sekali lagi ketika seorang membuat tempat yang nyaman meskipun kecil, dan
lebih enak dipandang, maka yang lain akan berlomba lomba untuk memilikinya, dengan seleranya masing masing.

Di desa, terutama konteks sub urban atau desa penyokong kota, desa buruh dan juga desa informal wisata dan perkebunan non kebutuhan dasar, kebanyakan tidak begitu padat kerapatannya jika anda bandingkan dengan kota, WFH juga tidak banyak berpengaruh di sini. Hanya saja pagebluk dan resesi yang mengikutinya akan membawa perubahan sedikit bahwa rumah adalah juga tempat usaha. Apakah ini berarti mengubah total rumah menjadi tempat usaha? Tidak juga, namun ada ruangan terutama di depan yang memiliki akses langsung dengan ruang luar, berubah fungsi menjadi multiguna sebagai ruang usaha, ambil contoh teras, ruang tamu yang membelah menjadi ruang tamu dan ruang usaha, kamar depan yang beralih fungsi menjadi tempat usaha dsb. Kurang lebihnya ada ruang multiguna untuk usaha di area depan.

Kearifan desa informal pertanian dan perkebunan kebutuhan sehari hari tak banyak berubah sebagaimana mereka kaya akan kebutuhan dasarnya. Tradisi juga akan tetap mempertahankan keberadaan ruang tamu sebagai astana paseduluran. Perbedaannya resesi yang mengakibatkan naiknya harga harga bahan pokok akan membuat mereka lebih banyak membutuhkan ruang untuk menimbun hasil buminya, jika lumbung rumah tidak memenuhi, sasarannya tentu ruang depan atau ruang tamu. Ketika hasil bumi memiliki nilai yang lebih tinggi, tentu memamerkan kekayaan hasil bumi adalah wujud aktualisasi diri. 

Untuk semua hal pergeseran fungsi ruang di atas, kita tidak bisa mengatakan itu menjadi rumah ramah corona atau apa, ini bukan bab marketing trademark. Perubahan sosial culture personal yang menjadi pergeseran sosio cultural secara komunal itu membentuk budaya baru. Sebuah budaya yang lebih efisien untuk memanfaatkan ruang ruang secara multiguna di dalam rumah.  
pergeseran makna ruang dan langgam semi privat

Itu tadi kalau kita bicara ruang privat alias rumah. Bagaimana dengan yang semi privat, seperti misalnya perkantoran, dan tempat usaha yang lain dari kota hingga ke desa?

WFH itu seperti menyadarkan kepada para usernya bahwa bekerja bisa dimana saja, lebih dalam lagi WFH itu juga menyadarkan financial controller di perusahaan sampeyan bahwa untuk mencapai produktivitas tertentu, bisa dengan memangkas cost yang dibutuhkan. Hahaha…

Let say itu benar, perkantoran dan tempat usaha lain tak lebih dari tempat transit saja, misal untuk meeting dengan kolega, atau untuk menyimpan dokumen. Ini bukan hal yang baru, saya yakin anda tahu virtual office, sempat trend beberapa waktu lalu, atau tren menjamurnya sharing workspace? Saya kira tak perlu menjelaskan lebih lanjut, anda tahu maksud saya. Perkantoran atau tempat usaha yang efisien? Semoga tidak balik ke era PO BOX, susah trackingnya.. Hahaha..

Di desa penyokong dan desa buruh, ruang ruang kerja yang banyak terdapat adalah komplek industrial, problematika efisiensi ini masing masing anda tahu benar, seberapapun semrawut hingga seberapapun settle perusahaan itu mereka akan mencoba mengefisiensikan kinerjanya untuk mencapai produktivitas
yang tinggi. Untuk beberapa bidang, padat karya itu tak tergantikan, namun di banyak bidang, teknologi itu kian hari kian murah. 

Tahun ini anda membeli peralatan dengan teknologi yang sama dengan yang lima tahun lalu anda idam idamkan tapi tidak kesampaian secara financial? Hari ini mungkin sudah murah, karena teknologi yang lebih baru sudah tersedia juga di pasaran. Bagaimana dengan nasib mereka yang menjadi buruh padat karya. Seperti halnya sebuah piramida konsumsi, mereka harus naik step untuk bertahan bekerja, selebihnya anda harus mencoba memilih yang lain. Anda yang berani bertarung mungkin akan memilih berdikari misalnya. Ini bukan nyumpahin, di beberapa bidang, mesin dapat menggantikan manusia. Efisiensi produktivitasnya lebih besar meski dengan modal awal yang tak kalah besar pula. Tapi tetap, mesin membutuhkan manusia untuk mengoperasikannya. Padat karya yang berubah menjadi padat modal itu rasional. Terutama untuk menghadapi resesi. 

Ruang ruang kerja yang automation membutuhkan treatment tersendiri. Alur kerja pabrik yang seefisien mungkin itu memaksa anda memahami alur kerja ideal, hingga alur kerja saat worst atau ketika ada error line. Cuma itu? Tidak, faktanya sangat banyak hal yang sangat tidak terlihat selain hanya ruangan lengang tertata dengan lantai semen kinclong di cat garis kuning. Traffic load barang, penghawaan, BAS, utilitas, safety assessment, standarisasi yang merujuk ke ISO, OHSAS  dan banyak lagi. Apakah ini jadi tantangan untuk arsitek? Tidak. kecenderungannya arsitek di sini lebih suka untuk hal hal yang bersifat hedon, landmarking hingga sekadar wah. Membangun pabrik terlihat bukanlah sesuatu yang bonafid apalagi banyak hal yang perlu diperhatikan, panas, ribet dengan lingkungan, keterbatasan supply, ruwet, nggak mau ngikuti idealisme arsitek, nggak mau bentuk bangunannya trendy, nggak mau coba coba material yang mahal dan top end (jadi nggak dapet fee dari titipan supplier), tenggat waktu yang rapat, fast track dan biasanya rewel. Hello? Pabrik itu biasanya megaproyek, tapi iya, pabrik itu tidak menerima orang manja. Hahaha…

Sadar atau tidak pagebluk ini membuat display tentang pola pekerjaan konstruksi yang baru untuk kita. Rumah sakit kubikal yang bisa dibongkar pasang dan digarap dengan cepat. Ini bukanlah hal yang baru untuk anda yang berkutat di bidang konstruksi atau anda arsitek yang biasa dengan pabrik atau konstruksi modular lain. Polanya sama, desain, fabrikasi, konstruksi, done. Kalau di proyek fisik, untuk mempercepat sebuah pekerjaan itu simple, bisa ditangani di 2 lokasi, tinggal pilih,  di tempat fabrikasi dan di lapangan. Di fabrikasi sampeyan harus membuat bentuk kit yang modular, agar memudahkan fase produksi terutama untuk meningkatkan kapasitas, bila modul sama, mau nambah fabricator dari pabrik lain untuk penambahan kapasitaspun oke saja, lalu rakit, dan kirim setengah terpasang agar sampai di lapangan hanya tinggal terap saja. Di lapangan kurang lebih sama, terapkan dan untuk mempercepat, ya tingkatkan kapasitas, tambah pekerja atau jam kerja dan mesin mesin. Untuk hal yang tidak modular anda bisa gunakan material fabrikasi yang tinggal dipotong untuk adjust saja, misal sandwich panel, gypsum, cement board dsb. Ini akan memangkas waktu delivery bila di manage dengan benar.

Pergeseran makna ruang dan langgam ruang publik

Pernah dengar pagebluk ini membuat polusi di China berkurang drastis? Perubahan pola interaksi ini mereduksi kegiatan luar ruangan dan juga kegiatan yang berpotensi untuk menimbulkan polusi. Ini
mungkin hanya bertahan selama resesi saja, selebihnya ketika semua kembali normal, semuapun akan kembali seperti tahun tahun lalu, hanya saja pergeseran pola interaksi yang akhirnya membudaya, akan mereduksi pembebanan polusi saja. Pola interaksi yang lebih mobile, efisiensi kegiatan usaha, lalu apa? Pernahkah bagi anda yang bekerja formal di dalam ruang tertutup berpikir untuk berkantor diruang publik? Akan sangat mungkin. 

Pemerintah punya program untuk memperluas ruang publik dan ruang hijau hingga luasan sekian persen. Ini akan terdukung dengan budaya baru efisiensi aktivitas dan interaksi tadi. Ruang ruang publik, hingga ruang ruang hijau yang selalu didevelop ramah terhadap semua orang akan menjadi bagian dari keseharian masyarakat kota.

Ketika anda tidak bisa memultigunakan ruangan rumah anda sedangkan semua kegiatan official anda bisa dilakukan dimana saja, kemana anda akan berlabuh? Kafe? Atau taman di dekat rumah? Selalu ada plus minus. Tapi transformasi makna ruang publik ini benar benar menjadi ruang yang digunakan beraktivitas bersama sama. 

Kita tinggal di negeri yang tropis, beriklim hangat, dan memiliki kelembaban yang cukup tinggi. Nyaman mana beraktivitas di ruangan tertutup, ruangan terbuka dengan atap atau ruang terbuka dibawah naungan pohon? Beberapa waktu lalu kita sempat demam go green yang mengikuti pola ekonomi hijau. Hari ini harinya pola ekonomi biru. Saya kira tak perlu menjelaskan ini, tapi bekerja efisien dan WFH itu juga terjemahan dari blue economy dalam skala keriuhan kota, bekerja dengan apa yang kita punya dan di sekitar kita. Mixing keduanya kalau kata expert fundamentalis tentu tidak bisa, tapi bangsa kita bangsa pemaaf dan oportunis, blue economy yang green?

Balik lagi ke tropis tadi, masih ingat ada lagu kolam susu bikinan Koes Plus. Tanah kita tanah surga. Ini tentu sedikit terdengat subyektif dan patriotis, namun faktanya kalau kita cermati kekayaan alam kita memang luar biasa, terutama untuk yang hayati seperti empon empon misalnya. Tolong jangan terjebak pada obyek empon emponnya dulu. Bagaimana kita membawa kekayaan hayati ke kota? Berkurangnya polusi di China akibat pagebluk ini tentu menjadi bahasan marketing bahwa pagebluk ini membawa lingkungan lebih sehat. Kontradiktif bukan? 

Kita bisa mencapainya dengan cara lain, perbanyak ruang hijau, setiap tanaman mampu mentransformasi dan menyerap CO2 rekan rekannya si agen perubahan iklim melalui rumah kaca. Tahukah anda kalau pohon glodokan yang dipinggir jalan itu dapat menyerap 1 ton CO2 pertahun ketika berumur optimal sekitar 20-40 tahunan? Mau yang lebih masif? Pohon trembersi seperti yang di Simpang Semanggi itu dapat menyerap 28 ton CO2 pertahun dengan konsekuensi porsi minum air yang tentunya banyak juga. Setidaknya memang benar alam memiliki jalannya sendiri untuk mencapai keseimbangannya. Hari ini kita masih mendengar teriakan tentang perubahan iklim di negeri lain. Kita memiliki potensi dan pilihan yang lebih baik. Saya percaya anda menyuarakannya juga.

Ruang publik yang ramah kepada semua orang, modular, multiguna, higienis dan hijau. Ini adalah tantangan kedepannya untuk kehidupan kota.

Bagaimana dengan desa? Kontradiktif dengan yang diatas, desa cenderung tidak tertata dan terpola dengan baik, desa cenderung berkembang sesuai kebutuhannya, selebihnya masyarakat sendiri pula yang akan mencebokinya agar nyaman digunakan bersama sama. Efisiensi dan perubahan pola pikir
menyesuaikan tantangan jaman akan memaksa sudut sudut ruang ruang publik berubah menjadi ruang ruang semi publik. Warung warung, gerobak kekinian, hingga meja meja ala kadarnya untuk display akan menjadi bagian dari ruang publik dan memaksa bergeser menjadi titik keramaian baru, tak sejalan dengan semangat pembatasan interaksi demi menceghah menyebarnya pagebluk. 

Ruang ruang publik tidak lagi menjadi nyaman, ruang ruang lalu lintas tidak lagi menjadi aman. Edukasi akan kalah dengan kebutuhan. Menata hal hal itupun tidak semudah membalikan tangan. Tidak ada cara lain selain berdamai dengan kebutuhan. Seberapa nyaman nongkrong anda nongkrong di pos ronda misalnya, yang mana di dekatnya ada gerobak makanan, lalu si pembeli numpang duduk di pos ronda? Satu orang tentu tidak masalah, tapi kalau sudah banyak orang yang numpang duduk? Pos ronda lambat laun akhirnya menjadi warung, itu saja tak usah kita berkembang berbicara bagaimana tiba tiba kawasan pos ronda jadi ada sing mbahurekso (baca, premannya) yang mengutip para pedagang dengan alasan keamanan atau kebersihan. 

Itu satu hal, bagaimana dengan utilitasnya? Pembuangan air, sampah dan penyimpanan peralatan display misalnya. Tidak semua tempat memiliki pembuangan air dan sampah yang memadai, ini mungkin bisa direka secara arsitektural, tapi tentang habit orang, seberapa kuat arsitek mengedukasinya? Ketika display yang awalnya mobile, betah di suatu tempat. Perkembangan lanjutannya adalah pasang tenda, pasang paving block atau rabatan dan peningkatan perkakas yang lain. Ketika perkakas mulai kompleks dan membutuhkan effort yang tak sedikit, display dan perangkat lenongnya itu punya pilihan yang lebih efisien, yakni ditinggal atau digeser ke sedikit tempat yang tak jauh dan tak terlihat. Kumuh akan menjadi PR baru. Bagaimana arsitek akan menyikapi hal ini? sebenarnya tidak ada jawaban yang pasti, karena konteks budaya setempat dan tipikal masyarakatnya menjadi factor utama untuk menata, atau pada intinya tak ada rumus baku. Tapi saya tak yakin ada arsitek yang menggeluti hal ini, kalaupun ada si arsitek itu mungkin lebih suka di panggil sosial justice warrior. Hahaha..

Ruang ruang publik yang terdowngrade pada akhirnya akan menjadi hal yang jamak di desa desa.

konteks ruang makro

Pergeseran pola ruang makro di kota

Di atas kita coba bicara pergeseran fungsi ruang ruang dari perilaku yang baru. Dalam konteks kesatuan ruang utuh pada skala yang lebih luas, ruang ruang multi fungsi akan menjadi lebih masif. Meski tidak semua kegiatan bisa diefisiensi, dengan efisiensi pola aktivitas perkantoran yang terjadai saat ini, tentu penyedia sewa luasan usaha baik gedung gedung perkantoran maupun yang lain akan mencoba lebih ramah dengan kepentingan penyewa, mereka akan mendevelop daya tarik untuk menaikan nilai tawar. Daya tarik tersebut bisa berupa memberikan kelonggaran membuat kafetaria di ruang perkantoran, open hall, balcony dengan coffee vendor misalnya, superblock kecil dan masih banyak lagi. Refurbishment dan fit out akan tetap ada namun tak melulu bisa di definisikan secara stringent. Namun yang pasti konsep konsep modular yang berkembang di asia timur akan menjadi hal yang jamak polanya untuk diaplikasi, selebihnya cuma menyesuaikan tantangan ikrim mikro saja.

Ruang ruang publik akan lebih banyak, modular, multifungsi dan saling terintegrasi, ruang ruang lalu lintas akan lebih ramah terhadap pejalan kaki, beberapa tempat akan lebih hijau dan menyediakan ruang ruang nongkrong. Ruang ruang hijau akan terus didevelop namun tidak semua menyusur ruang lalu lintas, namun lebih ke kluster kluster hijau yang menyebar.

Kompleks pemukiman kota tidak akan banyak berubah, namun hanya sebatas detail saja untuk mengakomodir pola interaksi local. Perkampungan padat penduduk akan lebih padat akibat tolak balik pemudik menghindari karantina, di sisi lain pola interaksi pemukiman pada penduduk di kota akan lebih hangat dan bersih, ruang interaksi akan disediakan oleh masing masing rumah dimuka dengan keterbatasan ruang yang ada, ruang ruang interaksi dalam konteks komunal akan kembali tumbuh memanfaatkan sisa ruang di lingkungan yang ada. 

Untuk kota kota kecil dan pinggiran kota besar, kurang lebih sama, ruang ruang publik akan lebih memiliki makna lebih, fungsi yang berlipat dan justru disertai dengan pergeseran penduduk desa penyokongnya ke kota untuk mengadu nasib, yang mengakibatkan pelipatgandaan fungsi di atas, yang sedikit bias dengan kegiatan pemenuhan ekonomi, tak cuma itu, kegiatan pemenuhan ekonomi skala kecil juga tumbuh di ruang ruang lalu lintas yang mengakibatkan penurunan kenyamanan berlalu lintas. Probem utilitas kota kota kecil yang cenderung terintegrasi dengan ala kadarnya akan menjadi sumber masalah baru dengan  adanya pertumbuhan kegiatan pemenuhan ekonomi ini. 

Pergeseran pola ruang makro di desa

Sejalan dengan itu, di pinggiran kota kecil atau desa penyokong kota dan desa dominan buruh, pertumbuhan kegiatan pemenuhan ekonomi ini membentuk kluster kluster keramaian baru. Baik yang akhirnya diformalkan oleh stakeholder setempat dan yang liar. Diluar kluster kluster tersebut, di ruang ruang pinggiran arteri lalu lintas mulai berubah fungsi mengakomodir mereka yang tidak mendapat tempat di kluster kluster tersebut. Untuk yang memiliki modal lebih, alih fungsi ruang tersebut akan menjadi alih fungsi lahan menyebar keluar secara radial dari kluster menyusur jalan. 

Untuk desa desa informal, akan ada pertumbuhan pemukiman desa yang lebih besar, pagebluk ini menyadarkan bahwa bekerja bisa di mana saja. Dengan modernisasi jaringan telekomunikasi yang menjangkau desa desa, akan ada sedikit perpindahan penduduk dari kota menuju ke desa, yang tadinya mencari aman dari karantina wilayah, menjadi menetap dan membawa wacana sumber ekonomi secara informal yang baru.

Langgam baru kota

Dari terawangan pergeseran ruang mikro dan makro, kita mencoba menyarikan pola adaptif yang akan digariskan arsitek (dalam konteks luas). Langgam. Apa arti langgam? Bentuk? Pola? Apalagi? 

Bentukan kota besar akan di drive secara tak sadar menjadi kota yang lebih ramah, higienis, rapih dan terkesan modular. Ini umum di Asia, namun belum menjangkau dengan baik di negeri kita karena terkadang berjuta keinginan dan ego menghasilkan sebuah langgam arsitektur tentang ketidak teraturan. Saya yakin anda menyadari bahwasannya kota kota besar di Indonesia itu vernakular, tumbuh, namun dengan guidelines yang tidak terlalu mengikat. Ini akan sedikit terkikis dengan kebiasaan tentang hidup higienis dan peraturan yang lebih stringent dari stakeholder setempat. 
Ruang ruang publik akan mengawali ini, multi guna dan modular. Kita tidak membicarakan tentang kubisme, modular dapat berupa apa saja. Yang akan membedakan langgamnya adalah ego stakeholder dan kolaborasinya dengan konsultan perencana yang amatir atau dengan yang berjiwa muda atau dengan yang senior. 

Di ruang ruang semi privat dan usaha, development akan difokuskan untuk menaikan nilai tawar dari efisiensi besar besaran. Keberadaan ruang ruang multiguna dan development untuk lebih homy akan menjadi trend.

Ruang ruang semi privat untuk fungsional kota akan sedikit beralih dari model model konvensional ala limasan menjadi model model arsitektur modular, simple dan murah. Untuk ruang yang memotong pandangan mata tetap akan memiliki arsitektur modern eksentrik sehingga menjadi tetenger kota.

Ke arah pemukiman, pola langgam hunian yang mengakomodir interaksi sosial dan ruang ruang komunal akan hadir dan dijumpai dari kompleks hingga pemukiman padat. Masyarakat yang lebih aware dengan kesehatan akan membuat lingkungan lebih bersih dan rapi. Masuk ke dalam rumah, akan hadir rumah yang memiliki ruang ruang multiguna, yang acceptable untuk bekerja.

Ketidakteraturan justru akan ada di kota kota kecil dan pinggiran kota besar, kluster kluster keramaian yang berkembang akan memiliki warna warni langgam yang dibawa oleh pengadu nasib. Spesifik ke sarana dagangannya, gerobak gerobak kekinian dengan makanan yang instagramable ala anak masa kini lebih banyak mewarnai ketimbang yang dagangan berat seperti warung tenda. Ini lebih didasarkan pada trend dan effort. Lebih khusus, warna warni ini timbul dari upaya berlomba lomba membuat sesuatu yang eyecatching dan eksentrik untuk meningkatkan daya saing atas dagangan yang sebenarnya biasa biasa saja.

PR yang akan timbul adalah bagaimana menata utilitas kota agar tidak menimbulkan masalah baru hingga masalah kesehatan. Tak hanya utilitas ruang ruang lalu lintas akan memerlukan penanganan yang lebih akibat kluster kluster baru tersebut, kaitan dengan safety factornya. Dari kluster kluster itu, ketidak teraturan tumbuh menyebar secara radial menyusur jalan, memberikan ruang ruang baru untuk mereka yang tidak mendapat tempat di kluster kluster tadi. 

Langgam baru desa

Di desa penyokong kota, problematikanya ruang desanya kurang lebih sama dengan kota kota kecil di atas. Hanya saja, ruang ruang desa akan lebih berwarna dengan upaya pemenuhan ekonomi di kebanyakan hunian. Ruang ruang di muka rumah akan terbagi menjadi ruang interaksi terbuka, tertutup dan ruang multiguna untuk usaha.

Di desa desa informal, pertumbuhan desa akibat pembatasan interaksi di kota akan mendapat tempat seperti selayaknya kehangatan desa. Ruang ruang multiguna yang applicable untuk berkegiatan layaknya era 4.0 akan tumbuh, kearifan desa akan tetap terjaga, namun pola kerja 4.0 ini akan sedikit banyak mengubah cara pandang masyarakat desa, terutama yang muda untuk membangun desanya lebih termodel, merefer pada trend pembangunan desa lain yang sedang in.

Lupakan semua yang di atas karena hanya opini

Begitulah terawangan yang sebenarnya tidak perlu anda perhatikan karena cukup absurd dan mengacak acak alur dan sudut pandang anda dalam berfikir, lebih lagi tulisan ini juga bukan tulisan ilmiah meski saya merefer pada beberapa buku (yang semuanya membuat opini dari buku buku yang lain juga dan seterusnya seperti sebuah bentuk fraktal), dan tanya jawab singkat pada beberapa orang, beberapa usia, dari beberapa sebaran tempat, yang cukup menjadi masukan dan menggeneralisasi pola perilakunya. Ini hanya esai ringan untuk membuang waktu di tengah program dirumah saja, terlebih lagi karena saya bukan arsitek, bukan analis sosial budaya, bukan filusuf bahkan bukan dukun juga.

Tetapi berhubung anda sudah membuang waktu anda kurang lebih setengah jam untuk membaca tulisan panjang ini, atau anda malah baru sekian detik membaca karena langsung di paragraph akhir? Saya kira kita bisa sedikit mencoba mendalami makna perubahan sosial akibat pagebluk yang dibatasi pada seberapa jauh berpengaruh pada makna dan bentuk pola ruang. Dengan apa? dengan alur pikir dan opini anda sendiri. 

Maret 2020
Ndik

tememplek by endik kurang luwih jam 12:56 a.m., > ,

Supir millenial

Beberapa waktu lalu saya diajak sodara bertemu seseorang temannya, lalu di lain kesempatan saya diundang beliau ke rumah, oh iya beliau adalah seseorang juragan tambak. Singkat cerita dia ingin bantuan untuk menjual tambaknya yang sekian ribu meter persegi itu.
Ada alasan yang agak aneh menurut saya, anaknya tak lagi berminat memelihara dan menginvestasikan properti itu dan menjadi petani udang seperti bapaknya, lalu rencananya uang penjualannya untuk beli dump truk, iya dia bisa punya dump truk kecil baru 5 buah dari hasil jualan properti tambak yang produktif itu. Singkat cerita realisasinya hanya 1 dump truk baru, rumah baru yang mewah untuk ukuran kampung tepian tambak untuk si anak dan sebuah brompit ninja, sisanya ditabung.
Jangan kuliah tentang investasi properti atau apapun ke saya, ini bukan problem saya. Ada dua sisi mata uang, anda bisa pilih dari sudut pandang mana saja.
NGOEEEENGGGGKKK...!!! Klakson angin bajirut yang jan ra mutu tenan spelling kata katanya begitu juga volume trebel dan bass nya, entah pake amply apa yang tertanam di kompresor truk itu, mengagetkan saya yang sore itu melayang ringan menyusur jalur. Ketika tak longok, jebul si wedus, ya si anak mantan juragan tambak itu sambil tertawa lalu njejeri ngebak ngebaki jalan ngobrol basa basi dan berakhir undangan mampir ke rumahnya setelah di klakson panjang mobil yang sedang sipat kuping gedandapan entah sedang ngeterke wong arep babaran atau sedang menahan kepising tetapi ketahan kami. Iya ternyata antrean yang tertahan kami berdua sudah cukup panjang sebagaimana sore itu bebarengan dengan waktunya bubaran pabrik.
Manner di jalan raya, poinnya itu sih. Sore itu dia bisa njejeri dan ngebut karena bak nya glondangan alias kosong.
Lepas dari itu, sering sekali truk tanah muatan penuh berbarengan jalan di sisi kiri kanan lajur. Ada dua alasan utama, di kiri mereka enggan menghadapi resiko gedandapan karepe dewe akibat ulah oknum pengendara motor yang sak kepenake dewe. Sedang kalau di kanan, tentu antrean akibat truk yang thumuk thumuk itu menjadi problem tambahan karena lajur kiri memang rawan potensi bahaya dari becak, pak kaji numpak brompit atau mak mak bermotor entah mau takziah atau ke pasar. Kalau pasukan bermotor tak usah ditanya, sepanjang laju mengikuti laju traffic tentu tak begitu bermasalah. Lagian kalaupun bermasalah ya harap maklum saja.
Dilema jalan itu acap terjadi di siang hari, truk thumuk thumuk tak Cuma kebingungan cari jalur, namun dewasa ini anda akan sering mendapati fenomena yang tidak hanya seperti itu, mereka yang thumuk thumuk itu sering ngebak ngebaki jalan, thumuk thumuk di kiri dan kanan, kedewasaan berkendara terkadang terkikis oleh ego ala kadarnya dengan berlandas ada "urip neng nalan" alias memang dijalan untuk cari penghidupan. Seperti teman itu, dengan segala kemudahan dewasa ini dan keberuntungan pulung dari tambak, upgrade kewirausahaannya tentu perlu diapresiasi, begitu pula dengan teman2nya sepantaran yang lain. Namun dibalik itu ketika kelakuan angkot merambah ke supir truk, berbahagialah anda, ada wahana baru untuk menguji adrenalin.
Truk adalah sebuah mekanisme mesin besar yang jamak dimelintasi kehidupan kita sebagaimana fungsinya sangat dekat dengan berbagai kebutuhan manysia. Mesin yang mudah diperoleh dan familiar untuk dioperasikan. Namun disini berbeda dengan di luar. Untuk menjalankan truk operator atau driver wajib memperoleh sertifikasi layaknya mengoperasikan sebuah mesin.
Dengan perijinan yang lebih mudah tentunya mengoperasikan truk semudah belajar nyupir angkot, sama sama "golek pangan ing ndalan". Benarkah? Terserah anda, tentu ambang idealisnya di jalan raya adalah behave saja.



tememplek by endik kurang luwih jam 7:24 p.m., > ,

Cerita teman

Sebenarnya ini bukanlah hal penting untuk panjenengan baca, sebagaimana sebuah cerita orang lain, tentu ini tak terlalu berpengaruh sama kehidupan sampeyan dan saya. Yah sebagai obrolan untuk mengisi postingan yang nyaris setahun sekali di isi di blog ga jelas ini.

Berawal dari obrolan ngalor ngidul tentang citarasa kopi, entah bagaimana sambungannya membelok ke obrolan tentang media sosial sebagai konteks makelaran teknologi.

Medsos punya jutaan alasan mengapa ia dibutuhkan dewasa ini, ya setiap lini hidup sebagian besar kita di belahan dunia sudah terinstall medsos, fitur berinteraksi itu ada di otak reptil, terbidik sudah. Saya nggak mau mempermasalahkan itu sih, secara prinsip hal ini adalah benar, teknologi membantu manusia, medsos membantu manusia dalah hal interaksi. Yang kita coba kulik adalah sifat addict itu yang sedikit banyak membuat teknologi berkembang tak saja untuk membantu anda, namun sebaliknya manusia membantu mempermudah teknologi, eh bukannya benar, teknologi ada oleh keberadaan manusia? Iya. Lebih jauh lagi ketika teknologi tak lagi menjadi alat bantu, teknologi menjadi lebih rumit dan manusia bergantung padanya untuk membuat segalanya menjadi nyaman dalam tolok ukur keberhasilan si manusia itu sendiri, pada akhirnya supply demand menjadi seleksi alam si manusia itu, dan berakhir menjadi budak teknologi, era skynet dimulai, manusia menjadi proletar proletar yang diperas oleh kartel kartel borjuis teknologi yang beranjak menjadi bentuk neokolonialisme baru, MERDEKAAAAA....!!!

Tentu imajinasi ini menjadi rak mutu kalau terminator datang terus ngebut pake truk sak onone mengejar anak sampeyan yang sipat kuping numpak brompit protholan di selokan Sayung Demak sana, kayak film terminator jadulnya cak Arnold itu, kira kira akan terlihat kemproh gluput ireng ireng lumpur tercampur limbah sembarang kalir karena si saluran tidak siap syuting sembari menanti proyek pengerukan saluran setahun pisan.

Beberapa hari yang lalu dikala trafik komunikasi sedang rame karena bagdan ini, tiba tiba wasap di hp tidak berfungsi secara celeng sekali, terpaksa apdet dengan rodo susah payah karena saya ndilalahnya berada di daerah remote (dan belum berhasil sampai sekarang hahaha...) ada pemberitahuan bahwa wasap sudah nggak support windospon mulai desember nanti, tapi masih support utk android yg seri sekian dan ios yg seri sekian, menyusul pesbuk dsb, ya proletar kayak saya tentu mikir wah ada 7 bulan persiapan untuk tuku hp baru.

Ndadak kudu tuku???

Adakah informasi pembagian hp gratisan?? Kecuali yang member korporasi yang dapet dum duman hp sebagai aset, tentu tak ada.

Pengguna symbian pernah kena hal ini, Blackberry juga, selain pengembangan yang berbiaya mahal ketiadaan support apps populer membuat os ini ditinggalkan, pasar senantiasa bergerak, yang tidak survive tentu terlibas. Mengarahkan konsumen untuk menggunakan atau membeli produk baru adalah celah yang bisa dimonopoli melalui persyaratan pembaharuan perangkat, jika tidak diperbaharui, tentu kejadian celeng sekali yang saya alami akan anda alami juga. Tak ada disclaimer layaknya peringatan di bungkus rokok saat kita ngopdat ngapdet apps itu. Addict terhadap salah satu apps akan membunuhmu.

Gampang dab, tinggal cari alternatifnya... Semudah itu kah? Bisa iya bisa tidak. Konteks apps untuk bekerja macam msword, cad hingga msproject tentu banyak kw nya secara limitasi penggunaan lebih ke efisiensi biaya. Lha kalau medsos? Dimana interaksi antar pengguna jadi market place nya? Anda yang pake viber, tak akan bisa berinteraksi secara maya dengan pengguna wasap. Ini ceruk pasarnya.

Saya teringat sekitaran 7-8 th lalu saat wasap belum semasif sekarang, tak banyak klintang klinting notifikasi di hp saya, kecuali mandor yang mencari saya karena berbagai keperluannya, oh iya foreman saya sudah cukup canggih dengan berbagai macam kepemilikan hp saat itu, untuk menyiasati kebutuhan komunikasi lapangan yang beragam. Hari ini? Pak pulisi di berita sering sekali mencomot orang akibat berita hoax dari grup wasap. Medsos menjadi perantara dialektika berkehidupan. Propaganda, desepsi dsb dengan mudah di lakukan di medsos dengan target pengguna Ekslusif tadi. Apps tadi bertransformasi di lini kehidupan, menjadi indera tambahan untuk anda, menjadi mata, rasa dan cangkem anda yang baru.

Apakah era skynet akan segera dimulai? Hahaha iya sudah dimulai sejak apps gratisan minim fitur non komersil diakuisisi menjadi bagian dari produk komersial.

Ini berlaku umum tak Cuma di wasap. Perang teknologi ada tendensi sebagai perang kebutuhan, neokolonialisme teknologi sedang bergaung, mengarah ke kulturstelsel apps.. Hahaha...

Siapa yang akan menyelamatkan sampeyan dari neokolonialisme teknologi ini? Apakah butuh konfrensi asia afrika? Apakah butuh Syarekat Dagang Islam? Atau justru bisa diatasi dengan khilafah? Mbuh bro.. Tuku congyang rak wis nek bingung, segala masalah teratasi dengan kekuatan congyang dan gitar..

Kalo sampeyan mau menilik lebih jauh, generasi teknologi mobile phone cukup lambat, rata2 kisaran windu ke dasawarsa, amps itu gen 1 mulai umum digunakan di awal th 90an, didevelop kisaran 80an, sebelumnya 0G imts itu di develop sejak th 60an, hari ini sampeyan dengar perang 5g, tapi hari ini juga hp nokiyem triple 3 yg pake 2G yg sangar tenan masa itu, masih bisa saya pake. Entah untuk yg amps, kalaupun bisa, kresek2nya yg bikin geli kuping lebih masif atau tidak.

Saya lebih prefer nelpon dan sms kalau gak keangkat, entah kenapa saya juga tidak tahu, rasanya seperti prosedur otomatis tangan ketika butuh komunikasi pake hp, mungkin terbiasa saja, karena saya bukanlah penikmat fashion hp, atau musti high end gadget kayak james bond, sejak awal 2000an baru 5 kali, dengan urgensi penggantian karena jebol atau ilang. Jadi saya kira kehidupan saya gak sebergantung itu dengan apps. Kalo medsos ga bisa ke cangkok di hp saya sekarang, ya sudah masih ada fitur lain seperti nelpon, sms dan email, atau yg lain saya lebih prefer web base, gak ngebak bak i memori.

Traffic komunikasi besar seantero dunia, apakah benar2 pro bono? Untuk apa? Apa yang didapat dari effort berbiaya besar itu? Sampeyan yang antek neokolonialisme teknologi lebih bisa menjawab, kaum sudra seperti saya hanya bisa meratap dan menunggu curahan congyang hehe...

 

Gambar comot dari www.legeeks.org

 

 

tememplek by endik kurang luwih jam 3:56 p.m., > ,

Bukan kaleidoskop

2018 memang tahun yang spesial buat saya, dari momen yang menyenangkan hingga yang blas enggak. Saya nggak mau bahas satu satu karena ini bukanlah kaleidoskop tapi Cuma coretan sampah seperti biasanya.

Berawal dari foya foya menikmati tabungan hasil profit nglayap tahun kemarin, komunitas baru, kenalan baru dan beberapa propose proyek sebuah bisnis plan baru untuk mengekspansi usaha kontraktoran milik sedulur, saya menikmati euforia itu dengan sangat barbar. Iya, saya melakukan segala sesuatu yang baru yang belum pernah saya lakukan bahkan memang nekat dan merasa semua ada didalam genggaman, bahasa marokonya adalah "hajar nda..",

Tentu tak Cuma di sinetron yang ada antitesis dengan semua itu, ketika suasana mulai stagnan dan menjadi rutinitas harian yang sebenarnya tak bisa dilihat juga hasilnya karena terasa menjadi hal yang biasa biasa saja, tiba tiba saya terbangun oleh seruan simbok, "Ndik ki lho Bapakmu tibo, bar ketabrak, kae sing nabrak ng ngarepan.". Ya rutinitas Bapak tiap sore adalah pit pitan, olah raga yang murah meriah dan tidak membosankan. Hanya hari itu olah raga menjadi lain.

Tak perlu cerita panjang tentang itu,masalah sudah selesai, tentu polemik banyak, ngosek kawasan pesisir yang terkenal keras, polemik dengan oknum aparat yang berwenang yang masih sedulur, dengan rumah sakit dan dengan keluarga lain, semua karena saya sih, ndablek, keras kepala, suka ribut secara senyap dan licik you name it. 9 hari terbaring di ICU dan saya merasakan tidur di teras depan ICU dengan segala deg degan nya ketika ada bel pemberitahuan. Tepat 2 minggu terbaring dan 2 minggu pula menjelang ultah yang ke 72, buku yang bernama F Siswoyo itu ditutup oleh Penulisnya.

Terima kasih atas dedikasi selama ini buat beliau sebagai Ayah, buat Penulisnya yang menyajikan cerita yang baik via buku itu buat saya, dan buat mereka mereka semua yang terlibat yang membantu menutup, memberikan sampul dan membantu menaruh di rak yang bisa suatu saat saya baca lagi ketika rindu.

Saya tak mau mengatakan itu sebagai titik terendah, karena saya masih bingung menghadapi hal itu sebaiknya dengan suka cita atau dengan kesedihan. Semua bisa diraih dengan sudut pandang tertentu kan. Saya anggap itu ada di ttik nol saja.

Berkisaran dengan itu sampai di sekitar 100hariannya saya justru mengalami hal hal yg lebih nadir, entah akibat ribut berkepanjangan tadi, Ekspektasi pekerjaan yang tak sesuai fakta, deal deal yang gagal dan yang paling parah adalah akibat komplikasi semua itu, hari hari cupet

Melewati semester akhir tahun ini sedikit demi sedikit aktifitas mulai bergairah dan memberikan hasil, tawaran proyek mulai ada beberapa yang nyantol, dari yang komersil, yang sosial, yang berbasis komunitas dan beberapa lainnya yang lebih berat di sangga. Semua bisa jadi pijakan untuk mengawali tahun depan yg tinggal beberapa jam lagi datang.

Semoga jadi lebih baik ya buat bersama

Eh sedikit yang kelewat, biasanya ada yg protes kalo postingan blog ini nggak saru atau jorok atau lucu secara ngawur, itu semua hanya pilihan sudut pandang saja demi menggaet minat baca anda, kebetulan untuk yang ini saya tak berharap anda baca

 

Sent from my Windows 10 device

 

tememplek by endik kurang luwih jam 8:32 p.m., > ,

Setan eyd

Beberapa malam yang lalu sepulang nongkrong, masih belum ngantuk tentunya nonton tv jadi kegiatan standar mbok menawa ada film yg bagus meski mungkin telah diputer berulang ulang.

Pejat pejet tuts remote tv tentunya tidak menimbulkan tone harmonik suara layaknya piano atau pesawat telpon, terpaksa dalam hati pun ikut menelurkan tone umpatan yang saya dengar sendiri tentunya apalagi acara tv yang tersaji di semua stasiun saat itu tidak begitu sesuai dengan minat.

Tuts remote tv berhenti pada suatu acara mistis di sebuah stasiun ternama nasional, awalnya tak begitu memperhatikan kecuali backing suara standar mistis yang blas tidak jazzy dan tentu ketok digawe ngaget ngageti ben rodo medeni itu. Yang menjadi perhatian adalah saya tahu tempat itu, sedikit memahami karena pernah blusukan dan tahu secara ala kadarnya tentang sejarah di tempat itu.

Singkat cerita setelah eksplorasi yang cuma cerita karena yang diceritakan blas gak tampil di layar tv kecuali ujug ujug glodak glodak yang tentunya entah disengaja atau tidak disorot secara telat dengan perubahan ala kadarnya dengan bumbu2 cerita itu. Tibalah saatnya interaksi, logat jawa si empu yang membuka pada awal acara tentunya menegasikan sebuah kultur yang terbangun di sekitaran tempat itu. Catat itu!

Relawan yang entah dari mana datangnya ujug jug ngolat ngolet layaknya pencak silat yang dimainkan secara slow motion dengan mata melotot dan pringas pringis serasa tercekik whatever lah it called kesurupan. Ya ya ya standar prosedur gerakan kesurupan. Setelah si relawan diraupi dengan sedikit komat kamit oleh paranormal yang mengikuti acara tsb si relawan ujug2 ngececeng sedikit kejet kejet tapi lebih santai daripada ketika dia njoget ala buto cakil tadi. Setelah bisa dikontrol oleh paranormal etunya dimulai interaksi wawancara, secara gamblang paranormal bercerita tentang tersangka penyurup si relawan tadi, seseorang dari spesies antah berantah yang nongkrang nongkrong disitu sejak lama. Anyway itu bangunan dibangun sejak jaman kolonial dengan fungsi sebagai pabrik, namun tidak dengan langgam kolonial tenan atau art deco, sejatinya perpaduan vernakularisme kolonial, jawa dan tionghoa dipadu dengan langgam waton kothak koyo pabrik yg secara arsitektur mungkin simplikasi dari kebutuhan aktivitas yg dibikin oleh si empunya saat itu. Gak perlu tak attach fotonya ya, mundak ono sing tersinggung dengan omyangan saya di postingan ini. Dari kultur yang terbentuk di sepanjang acara dan cerita si dukun identitas si setan terkuak, buruh yang tewas sekian puluh tahun lalu saat masa kolonial Belanda.

Saat saat yang ditunggu adalah cerita si setan, tentunya tidak fair dengan cerita sepihak dari si dukun atau tukang jogo bangunan atau cerita si host acara. Di acara setanpun tetap butuh second opinion meski entah untuk apa.

Si host lalu menanyai si setan, uluk salam ala agama di jawab fasih meski si dukun tak menanyai agama si setan tadi lebih dulu. Ketika setan mulai mengeram lalu mulai berbicara tak jelas tata bahasanya yang intinya tidak terima diganggu, what? Bukannya beda dimensinya? Setelah permintaan maaf dan dimulai wawancaranya, si setan mulai bercerita. SILIIIIITTTTT...!!!!! Si setan bercerita dengan bahasa Indonesia.

Saya kira tak perlu mensinkronisasi cerita si setan dengan permen No. 46/2009 atau No. 50/2015 tentang ejaan bahasa, tapi logika say menarik kesimpulan tim kreatif acara tbs perlu banyal belajar, bukan belajar berkomunikasi dengan alaming lelembut, namun lebih ke konteks budayanya. Lepas pro kontra tentang alam gaib yang tak bakal ketemu bila kita telisik materi hingga perhitungan kuantumnya, gak lucu semisal acara setan dengan setting di Medan misalnya ujug2 setannya berbahasa Bali, meski ini masih bisa didebat lagi kemungkinannya.

Belasan tahun lalu saya pernah tongkrang tongkrong di Lawang Sewu, sebelum well organized seperti saat ini, modal kenalan, ngopa ngopi, ngekak ngekek dan ngudad ngudud memberi kesempatan saya untuk ngancani berselancar di terowongan bawah, tamunya dari univ ternama di Semarang, setelah mereka ketipu makelar guide dunia lain, dengan kemesakkean yang mendalam, para guide yg memang mengelola disana membolehkannya dngan berat hati tentunya, (tanpa benefit langsung buat mereka soalnya) kami bertiga (saya, teman kampus dan seorang lagi pemuda guide disana yg alkrab dngan kami) ditinggal buat nungguin para tamu yang mubeng nganjret rak bar bar menelanjangi setiap lorong basement lawang sewu itu. Berhubung cadangan rokok tinggal sebatang si kawan tadi pamit ke atas buat cari rokok tentunya dengan wanti2 kalo apa apa teriak saja. Oke.

Rokok yg tinggal sebatang itu kami hemat untuk diudud berdua, tepat di tempat lokasi uji nyali dulu yang fenomenal di stasiun tv itu. Ada penampakan? Enggak, yang ada ya siluman celeng menampak di diri teman karena sudah bosan menunggu dan kehabisan logistik bakaran mulut. Celang celeng dia mulai bersenandung.

Tak perlu detail saya cerita, karena bukan celang celeng itu fokus yang mau saya ceritakan. Tapi sama seperti acara tv di atas. Mahasiswa yg sedikit2 ngobrol dengan saya itu menunjukkan bidang logis yang dia pelajari, namun entah bagaimana mereka memiliki penasehat spiritual yang paten bersama keneknya, saya katakan paten karena entah mengapa mereka seperti tercengang dan menurut saja saat si dukun bercerita tentang hal yang tak kasat mata itu, benar benar tak kasat mata wong saya enggak paham juga tentang apa apa yang dia ceritakan, lha wong saya nggak lihat blas. Entahlah,, siapa sih gue,, seperti kata kata gaul anak muda etiopia.

Tibalah setelah kegiatan menunggu yng membosankan itu, mereka beranjak setelah kami mau tinggal naik, " sik mas.. Sik mas.." kami jawab "ngantuk mbah..",, "udude entek..", teman acuh tak acuh beranjak sambil memamerkan tato naga di kakinya dengan modal senter, entah kenapa kami masih bertemu dengan mereka di deket tikungan jalan pemuda, entah kebetulan atau tidak ngepasi si kenek kesurupan, kami yakin ethok2 saja, kenapa di luar di trotoar bukan tadi di dalam? Sebenarnya di balik pagar acara kesurupan itu ada monumen, sebuah tugu berisi tulang belulang yang tak tau siapa, entah pejuang entah pesakitan jaman pertempuran 5 hari, sekarang terlihat karena pagar terbuka tapi mereka tak tau saat itu, kami iseng berhenti, si dukun rasanya agak jengah dengan kehadiran kami tapi yo wis kebacut hahaha.

Interaksi si demit yg nyurupi itu dengan si mahasiswa tak begitu jelas, dan sangat standar, yakni dibuka dengan kaku kayak robot dan menggeram, karena udud kami penuh setelah beli kami pun ikut nngkrong disitu, sekalian mengiyakan seorang mahasiswa yang ramah mengajak kmi bergabung, sebagai referensi mungkin.

Demi kontekstual demit, ceritanya si setan yang nyurupi adalah tentara belanda setelah tadi scara singkat nonik belanda juga sempat meski sebentar. Inilah letak salahnya obrolah ala menir londo mencari si pitung dengan bahasa campur jowo dan logat di londo2ke itu benar2 menggelikan, kami memang tak ingin mengganggu sampai pada titik si mahasiswa itu menawarkan kami untuk berinteraksi, tenanan ki mas?

"guddendag mevrouw..?" sapaku membuka, asal sampeyan tahu jam sudah mendekati pukul 12 malam dan si setan itu tentara laki laki.

"hrrmmmhh.." katanya mengeram

Lagi saya tanya, "ni hao ma mevrouw?"

Benar tebakan kami, dia menjawab dengan mengeram saja, asu tenan lucunya juga para mahasiswa itu serius mendengarkan kami. Hendak lanjut pertanyaan saya tiba tiba teman menjawil, "wis wis.." sambil berbisik dia mengajak lanjut jalan.

Mahasiswa itu entah siapa namanya lupa tapi seangkatan dengan saya kalo tak salah ingat, dia menanyakan yg saya tanyakan dan kesan kami, teman langsung jawab, "ah mbuh mas, ngono ki adang gelem komunikasi kadang ora."

Setalelah pamit dan berpisah, teman baru bilang, aku disangoni dukune mau 20 ewu nggo tuku rokok pas kowe mulai takon setane bar dikon karo mase." Hahaha, baiklah..

tememplek by endik kurang luwih jam 11:51 p.m., > ,

sakderengipun kawula nyuwun agunging samudra pangaksami dumateng panjenengan sami, sesepuh pinisepuh, bapak bapak saha ibu ibu, mas mas saha mbak mbak ingkang kersa mampir dhateng papan kawula menika, menawi wonten kalepatan, sedaya klenta klentunipun bilih tumindak lan atur, nyuwun boten dipun dadosaken penggalih, mugi mugi Ngarsa Dalem Sing Ngecat Lombok paring berkah..