Canang Jawa

Canang, secara harafiah sebuah simbol keikhlasan, sebuah sajian untuk Sang Hyang dalam warna Hindu Jawa, sebagaimana dasar budaya lokal Jawa kuno. Biasanya diletakkan ditempat yg membutuhkan berkah.
Ca nang berarti tujuan yg indah dalam basa kawi, banyak ragamnya berdasar dari susunan sesajian pembentuknya.
Canang juga ada yang untuk harian dan ada yang dalam event tertentu, misal kliwonan.
Jejak budaya sesembahan canang masih kental tersisa di Bali.
Di Jawa, akulturasi budaya yang berlapis perlahan melunturkannya, entah musrik atau alasan yg berbau mistis lain.
Tapi ini etnik. Unik.
Di sudut kota yang katanya masih kental kejawennya itu, dia mungkin beralih fungsi sebagai elemen chic saja di tempat yang mungkin tidak seharusnya.
Ironi? Entahlah

tememplek by endik kurang luwih jam 5:03 PM, > , dipun link kaliyan postingan menika

Sampeyan mengerti tidak?

Bahasa bisa jadi pelengkap, pemberi informasi utama atau apapun.
Terkadang bahasa itu tak penting, yang penting adalah jangan dipidak

tememplek by endik kurang luwih jam 9:16 PM, > , dipun link kaliyan postingan menika

Mengintip laut

Kuberikan padamu dunia dan segenap isinya, untuk kau kelola dan kau cacah :D

tememplek by endik kurang luwih jam 11:40 PM, > , dipun link kaliyan postingan menika

Perjalanan itu sangat heroik

"Saya berangkat dari tadi pagi mas, sebelum jam 6, tempatnya jauuuh sekali.. di kampungnya.. jalannya jauh berkelok kelok, banyak hutan dan jurang.."

Malam Sabtu kemarin saya terkesima oleh cerita seorang Ibu sebelah saya dalam perjalanan kembali ke Jakarta.
Dia meminta tolong dipandu sesampainya di Jakarta untuk meneruskan perjalanan ke Serang. Saya cuma berfikir, semoga masih ada Damri ke Cilegon sesampainya di Sukarno Hatta, nanti menjelang tengah malam.
"Ibu nggak tega melepas dia sendiri, apalagi bawa anak kecil.."
Yah dia dapat menantu di Ende, perjalanan kali ini adalah menemani anaknya ke sana, sang suami karena ada tugas, tak bisa menjeput.
"3 hari perjalanan dari Metro (Lampung) ke Surabaya, lalu masih lanjut dengan kapal. 9 hari mas sampai di sana.."
"Untung saya ikut, nggak tega pokoknya.."
Saya jadi ingat, berbagai macam pesan dari simbok dan nenek setiap saya pulang atau tiap saya telpon rumah. Sedewasa apapun kita, kita tetap anak, dan Ibu akan fight untuk melindungi si anak.
Karakter alami induk. Hmm..
Kembali ke Ibu tadi, setelah merasa selesai menunaikan tugasnya dan memastikan semua aman, ia kembali. Perjuangan untuk kembali itu sangat luar biasa untuk saya.
"Menantu Ibu bilang, Bu, kami tak bisa mengantar, hanya bisa sampai disini, di bandara"
Tiket on the spot terkadang susah, apalagi di musim libur begini, di Denpasar si Ibu tadi terpaksa menunggu hingga penerbangan akhir,
"Tiketnya mahal, uang Ibu kurang, jadi Ibu ambil yang malam saja."
Pengorbanan memang mahal.
"Habis ini apa Ibu langsung ke Metro?", tanya saya
"Tidak mas, Ibu mau ke anak Ibu saja, dia di Serang, nanti Ibu naik apa, tolong dikasih tahu ya mas.."
"Ibu tidak dijemput?"
"Tidak mas"
Tiba di terminal 3, bergegas saya temani beliau ke shelter Damri, terjawab dengan kurang sopan oleh entah petugas entah calo bahwa sudah tak ada malam itu, terlalu malam memang.
Opsi untuk ke Kp Rambutan lalu oper bus ke Serang baru Jam 3 bisa jalan.
"Anak Ibu tak bisa ditelpon, mungkin sudah tidur dia, Serangnya terminal ke selatan mas.."
Saya coba tanya ke petugas taksi, hanya bluebird yang berani karena sudah keluar wilayah operasi.
"Kurang lebihnya 400ribuan mas, tergantung mana Serangnya, pasti kena mel LLAJ karena sudah diluar batas."
Diiringi terimakasih yang berulang ulang dan doa, opsi yang terbatas itu terjawab sudah.
"Ibu tidur disini saja.."

tememplek by endik kurang luwih jam 4:20 PM, > , dipun link kaliyan postingan menika

"Saya mantan istrinya pendi.."

Hari ini jan ra mutu tenan.
Saya terbangun pagi ini tepat jam 10.10 wib
Bukan karena alarm, telpon atau miskol penuh dengan nada mesra, namun dengan gedoran pintu.

Saya semalam pulang ke Jakarta tepat jan 22.30 mendarat, demi kekancan, yang cukup ra wangun dan urgensi yang blas ra mutu yang nanti akan saya posting sendiri.

Pulang ke rumah, ndilalah ngepas waktu nonton pertandingan si barjabarbeh melawan real madrid yg cukup ra mutu dan membuat tertawa. Lalu melelapkan diri di hangatnya udara njakartah.

Suara gaduh pagi tadi cukup membuat saya terbangun. Saya hafal betul suaranya, awalnya kamar mandi yang di gedor, lalu berlanjut ke kamar si anak ibu kos, tak ada jawaban. Lalu berpindah ke pintu kamar saya. Setengah malas saya bangun.

"Nyari siapa Bu..?" Tanya saya sambil mata kriyip kriyip.

"Saya mau nyari Pendik..!"
Hmm saya punya berbagai macam nama panggilan dari endik, pendik, pendek, petruk, gareng, mbilung (sorry Om Rudi), gepeng, gendut, kenthus.

"Ada perlu apa?"

"Mana si pendik?!"

"Ada perlu apa?"

"Katanya ini kos kosannya pendik, benar gak"

"Iya, ada perlu apa?"

"Mana si pendik?"
Si milf gaje itu main srobot mau masuk kamar.

"Heh..! Mau kamu apa sih..!" Bentak saya. Mulai emosi juga akhirnya, soalnya style emak emak gak jelas, jauh dari seksi dan semlohai, jadi tengsin juga apalagi kalo sampai kelihatan tetangga.

"Saya mau nyari pendik", memang harus di bentak sambil nggebrak pintu biar down mentalnya.

"Lha kamu siapa?"

"Saya mantan istrinya pendik.."

GUBRAAAAKKKK...!!!

tememplek by endik kurang luwih jam 7:28 PM, > , dipun link kaliyan postingan menika

sakderengipun kawula nyuwun agunging samudra pangaksami dumateng panjenengan sami, sesepuh pinisepuh, bapak bapak saha ibu ibu, mas mas saha mbak mbak ingkang kersa mampir dhateng papan kawula menika, menawi wonten kalepatan, sedaya klenta klentunipun bilih tumindak lan atur, nyuwun boten dipun dadosaken penggalih, mugi mugi Ngarsa Dalem Sing Ngecat Lombok paring berkah..