wanita, the truly manager woensdag, april 22, 2009
Saat ini saya masih terjaga seperti biasanya. Cuma saya sedang memikirkan sesuatu yang mungkin anda pernah pikirkan. Saat mencoba resting pikiran, sambil mereguk kopi dan sebatang tembakau, sembari menikmati dinginnya udara malam setelah segar diguyur hujan tadi sore, masih berkabut dan lumayan sejuk. Sengaja dari tadi winamp saya aktifkan untuk melantunkan lagu lagu yang soft, supaya sedikit membantu slowing down laju roda roda gigi di otak. Secara kebetulan karena suffle mode saya on kan, terdengar lagu manis dari Karyn White, superwoman. Entah karena pikiran lagi kosong, syair lagu menjadi terasa masuk mengisi pikiran, secara tak sadar pula saya mencerna bait demi bait, kata demi kata.
Yah lagu itu seperti sebuah ungkapan emosi dan mungkin juga dapat dikatakan sebuah upaya untuk tegar kalau tidak mau dikatakan sebuah counter back argumentasi, pembelaan diri. Saya tidak mau mengapresiasi lagu itu, silakan anda dengar dan resapi sendiri, sense of meaning saya beda dengan anda, seni dan apresiasi itu subyektif sekali.
Saya mencoba berpikir yang logis saja. Apa yang diceritakan si Karyn ada benarnya juga, sering kali saya dengar dan lihat sendiri, masih ada pendapat persons, pria tentunya, yang menganggap peran seorang wanita tak lebih dari pelengkap saja. Benarkah demikian..?
Sekali lagi pendapat bisa berbeda. Tapi mari kita sedikit berhitung. Taruh kata acara pagi istri anda. Pagi benar ia harus bangun, untuk mencuci baju, memasak untuk sarapan anda. Kalau anda sudah memiliki buah hati, belum selesai ia menghidangkan makanan untuk sarapan, si buyung mulai ribut entah terbangun entah ngompol atau kenapa,terpaksalah harus mengecilkan api kompor untuk mengatur timing antara kegiatan dapur dengan acara menenangkan si buyung tidak berbenturan. Seteah selesai kembali ke dapur atau si upik sudah perlu dibangunkan supaya ia bisa mempersiapkan diri untuk sekolah..? Ketika semua tadi sudah running, istri anda harus mengambil sapu dan mulai membersihkan istana anda, belum usai acara menyapu, si upik kembali membuat acara baru dengan menunda kegiatan makannya, entah minta disuapi atau ia sedang tidak berselera, padahal ia harus segera berangkat sekolah supaya tidak terlambat. Setelah semuanya clear, ia meneruskan menjadi cleaning service pribadi anda, meneruskan acara menyapu atau mulai melanjutkan dengan acara membereskan pasca sarapan. Mulai menyimpan masakan yang tersisa, membersihkan meja makan, mencuci piring. Fiuuhhh… everything’s done. Take a rest time. Ups.. kalau istri anda seorang pekerja pula seperti anda..? bagaimana dengan timing tadi..? lebih majukan…? Atau bila istri anda pekerja dengan shift, misalkan di pabrik, dan shift dimulai per jam 6 pagi..? seberapa hebatkah kecekatan yang diperlukan..?
Dalam rutinitas sehari hari sedikit salah timing atau ada hal yang diluar dugaan berakibat mengacau jadwal yang telah seakan akan terbentuk, kekacauan yang berimbas pada keterbatasan waktu pasti mengorbankan beberapa item, terlewat atau tidak sempat. Sama dengan rutinitas pagi tadi, meskipun sebuah rutinitas, namun apa yang dihadapi tiap pagi tidaklah sama. Misalkan karena si buyung ngompol dan ia harus segera dibersihkan, namun karena terburu buru menyambangi jadi kelupaan untuk tidak mengecilkan kompor, mungkin pada saat menyapu disambi dengan memasak misalnya dan pecah tangisan si buyung tadi yang meminta prioritas dan urgensi yang lebih untuk diperhatikan. Alhasil sarapan anda menjadi berantakan, gara gara gosong. Andalah yang menerima konsekuensinya. Anda mungkin diam karena menyadarinya, tapi mungkin ada juga di antara anda yang entah mengerti atau tidak pangkal permasalahannya, tiba tiba marah marah karena tidak jadi sarapan. Ngamuk nggak karuan sampai mungkin mendiamkan istri anda. Haahhh… Sepele saja sebenarnya.
bagaimana bila si upik tiba tiba sakit, padahal semalam ia baik baik saja, jadwal menjadi lebih padat karena si upik membutuhkan ekstra perhatian lebih dari biasanya. Secara naluriah saja.
Jika anda..? anda cukup bangun karena dibangunkan atau alarm, lalu tengak tengok mencari nyawa, lalu beranjak ke kamar mandi atau, “sayang, kopiku mana..?”.
Anda cukup duduk di kursi meja makan setelah istri anda memanggil, ”mas.. sarapan dulu..”. lalu setelah selesai dengan sarapan baru memonitor, “sayang, si buyung masih tidur..? si upik sudah bangun belum..?”
Setelah mendapat laporan barulah, “oke sayang, aku berangkat dulu ya, baik baik dirumah. Cium dulu sini.. clup :-*”, atau mungkin malah dengan embel embel, ”ntar masakin lauk kesukaanku ya..”
Haha.. simple banget ya.. dari sepenggal cerita ini benarkah begitu adanya peran pelengkap itu..? justru sesuatu yang behind the screen itu lebih rumit, berat dan beresiko dari everything that shown on the screen..?
Mungkin seperti berikut ini padanan posisi anda berdua tentunya secara fungsional di dalam kerajaan anda. Anda adalah direktur keluarga dan isri adalah manajernya. Direktur adalah direktur, seorang owner of control. Yang mendedikasikan arah kemana sebuah company mau dijalankan. Bikin strategi lalu tau beres. Tetapi jangan lupa manajer itu mempunyai banyak fungsi, dari operasional, procurement, housekeeping, marketing hingga general affair. Owner of the operation. Atau bisa juga anda adalah presiden dan istri anda perdana mentrinya. Atau mungkin Leader dan deputy, dan masih banyak lagi padanannya.
Terus terang saya sendiri mengakui dengan sejujur jujurnya, bahwa saya tidak mampu untuk melakukan yang seperti di atas. Ini bukan pesimistis atau kalah sebelum perang. Tapi memang benar adanya. Terlalu rumit dan berat. Saya lebih memilih kerja fisik namun fokus di satu target selama jam normal ditambah lembur.
Hehe.. saya pernah dikasih Paman Tyo sebuah buku, why man can doing anything and woman cannot stop talking. Semua berbalik di posisi masing masing, dari fungsi secara alamiah hingga porsi untuk kemampuan melakukan sesuatu hal. Wanita dan pria memang berbeda, hampir bisa dikatakan berkebalikan. Ibarat kata, penjodohannya adalah untuk menyempurnakan. Haha.. seperti yin yang kali ya..
sebagaimana legenda, wanita adalah sebuah tulang rusuk pria yang hilang. Terus bagaimana dengan yang istrinya nyampe 3 orang..? apa tulang rusuk si pria hilang 3 biji..? ah entahlah..
Saya tak habis fikir dengan rata rata keinginan yang diatas namakan pubertas kedua. Entah selingkuh, ‘Cuma main main saja’, iseng, atau ‘ganti suasana’. Saya memang belum mengalaminya. Dan saya nggak mau munafik dengan mengatakan ‘nggak akan’, kan saya belum mengalaminya.. (kalo buaya itu soal lain.. buaya cuma soal 'kemampuan') Hehe.. dan ini bukan sesuatu yang sepele bukan karena masalah sakit hati si istri, tapi saya lebih takut efeknya. Jikalau saya harus melakukan semua yang ada di atas karena istri ngambek.
Bagaimana dengan pendapat anda..?
tememplek by endik kurang luwih jam
10:25 PM,
>
,
dipun link kaliyan postingan menika
cerita kopi, tembakau dan kendesoan maandag, februari 16, 2009
kalo boleh saya nebak ketika anda masih SD, SMP ketika ada kenaikan kelas dan terjadi pengacakan terhadap siswa, anda secara refleks mencari teman bangku yang telah mengenal anda, seperti mantan teman sekelas di tingkat sebelumnya, atau bisa juga yang anda kenal di kantin, atau bisa juga yang lain, tapi menjurus arahnya ke sana. sangat canggung bila anda duduk dengan teman baru yang sama sekali belum anda kenal, meskipun kenyataannya rasa canggung ini paling cuma sehari, atau justru semenit.
ketika mulai ke jakarta saya memang merasakan canggung yang luar biasa, karena saya datang sendiri dan hanya mengenal beberapa teman yang tentunya eks teman saya jauh di aktivitas saya sebelumnya, teman kuliah. tidak satu ada kenalan sekerjaan. jadi bahan tertawaan karena logat saya yang medhok tur mbededeg, memang canggung berbicara sehari hari dengan bahasa Endonesah meskipun ini bahasa nasional sekalipun.
saya tak pungkiri meskipun sekarang lagi mengadu nasib di kota besar tapi toh masih juga tidak hilang kendesoan saya. yang mengenal saya tentunya mengerti benar.
berbicara hal yang lain sepeda kumbang alias pit unto (dames/cewek) atau pit kebo (heeren/cowok) bisa dikatakan menjadi ikon di beberapa kota yang rodo ndesit, disini yang saya maksud adalah yang benar benar digunakan mayoritas penduduk sehari hari. saya tak perlu mencontohkan daerah mana, yang jelas anda pasti mengerti benar apa yang saya maksud.
begitu pula terjadi pada saya, ketika teman mengimpor motor kesayangan mereka, atau komputer mereka dari kampung halaman. saya tidak. saya malah mengimpor sepeda kumbang saya. untuk apa? enggak tau. tapi ya saya kenyataannya datang dan tujuan utamanya tidak pernah terpikirkan sampai sekarang. lepas dari niatan bike to work, tentunya sepeda itu saya pakai kerja, ke warung, dolan ke tempat teman dsb.di tempat kerja dahulu, saya mendapat jatah kompie yang online 24 jam. ketika iseng merdukun di lapaknya mbah gugel, saya bersua secara maya dengan lapak mas bahtiar. dari sini interaksi dengan beliau berjalan dan berkembang ke tongkrongan yang tentunya nyaman karena yang saya ceritakan di paragrap awal tadi. kendesoan, guyub dan sebagainya benar saya rasakan. bak bercengkerama dengan teman teman lama saya dulu.
penggalan penggalan cerita tentang hal hal yang nggilani, lucu lucu, umuk kata orang yogjo atau unthuk kata orang solo benar benar nyaman adanya, awalnya dari kehidupan sehari hari, nostalgia sepeda tua, consinyur koffee dan tabak sampai ruang toleransi untuk saya pribadi menjadi konsinyur wedang yang tak punya kode Depkes macam KTI, gingseng dsb
terlepas dari semua itu, saya punya alasan bahwa saya menikmatinya. having good times. saya benar benar merindukan ini.
selamat ulang taun mas bah.
tememplek by endik kurang luwih jam
10:16 PM,
>
,
dipun link kaliyan postingan menika
perjalanan liburan orang yang anti narsis zaterdag, januari 03, 2009
mereka bilang kami hoax.. :'(
malam minggu itu sekitar pukul setengah sebelas, langit terlihat cerah, bintang berserakan di angkasa dan sedikit membuat suasana malam terang meskipun tak ada bulan. saya masih menderu santai di fly over pinggiran kota semarang. bau ranum tanah basah sehabis hujan masih deras memenuhi kabin, terasa sejuk dan sedikit membawa rasa tenang. asap rokok masih mengepul perlahan lalu tertarik angin di sela sela kaca jendela yang sedikit terbuka, masih saja setia untuk menemani mengusir kantuk. sedikit melirik ke bawah, melaju rangkaian kereta dari arah barat. masih saja berlari seperti tak tahu lelah. kembali memandang jalanan diiringi sedikit menjerit mesin ini untuk memastikan teman yang berada di dalam kereta itu tak menunggu terlalu lama di stasiun.
huff.. tak perlu terlalu panjang dan detail saya bercerita tentang perjalanan ini, toh saya tak pandai membuat cerpen atau tertarik membuat posbung (postingan bersambung .red)
singkatnya setelah kami bertemu di stasiun tawang, teman meminta di berpusing pusing di semarang. lihat apa..??
seperti tercekat saya saat itu.. semarang.. di kota yang dulunya memiliki julukan venesia van oost ini, saya pernah 6 th menghirup udaranya memang, tapi saya tak tahu apa apa. 6 th di semarang saya habiskan untuk menuntut ilmu dan belajar giat sesuai amanat orang tua demi masa depan, saya tak pernah nongkrong layaknya remaja seusia saya saat itu.
warung hek yang saya sambangi bareng si wedhus setahun lalu jadi perhentian untuk sedikit menarik nafas sebelum perjalanan benar benar kami realisasikan.
segelas susu jahe dan gorengan mengisi perut yang sebenarnya sudah terisi sore tadi, sembari mengerjai si tobil kami membuang karbondioksida.
sebelum pulang saya memang punya niat untuk menuju puncak, bukan dengan ikut audisi AFI, tapi dengan ransel logistik di setidaknya kenteng songo merbabu sana. tapi urung karena cuti panjang dari 23 desember sampai 5 januari dinego oleh bos jadi 25 sampai 29 des lalu masuk di 30 dan 31 lalu bebas terserah sampai akhir minggu ini. catatan saja, 24 desember saya setengah hari dan berpacu pulang untuk mengejar misa bareng orang tua di hari yang sama di jam 6 sore. fiuhh.. selalu last minutes.. tetapi sebuah konsekwensi logis yang menjadi tuntutan saya sekarang. semoga masih ada gadis cantik yang tegar di dunia ini..
tanggal 30 desember kemarin ketika saya mesti balik jakarta karena ada inspeksi akhir tahun di lapak yang sedang saya urusi. fiuuhh..
saya bertanya ke teman tadi, kemana kita mengarah, karena perhitungan saya jam setengah 3 pagi jogja pun masih terlelap. ini berhubungan dengan akomodasi yang belum kami persiapkan untuk menidurkan anggota badan.
"terserah", ujar teman itu.
"isuk isuk nonton sunrise karo ciak mi rebus enak tenan dab", bersambut baik karena memang biasanya sesuatu yang diluar skedul lebih mungkin terjadi.
"wis tau ning suroloyo..?", disambut pula dengan gelengan kepala yang menegaskan suatu arah tujuan di perjalanan tengah malam kami.
obrolan dan kepulan asap rokok membuang rasa kantuk dan membuat terjaga penuh mengamati awal perjalanan. di Mertoyudan stir saya belokan ke arah Mungkid. benar benar si gulita sedang memeluk kota yang sejuk itu. jalanan luas dan sepi sedikit menggoda untuk menekan pedal gas lebih dalam.
jalanan lebar sekonyong konyong berubah menjadi jalanan country yang berkelok kelok, angin malam yang sejuk menambah teman perjalanan, jalanan mulus maupun keriting tak menghalangi mesin ini menderu. naik dari jalanan arah wates ke arah kalibawang kami mendapat teman baru, kabut pekat dan tebal menyilaukan pandangan akibat lampu panjang, gerimis hujan juga menemani. jalanan sempit, keriting dan curam terus kami libas, sering kami terlontar terbang akibat jalan yang naik dan memaksa mesin menjerit untuk mempertahankan laju tiba tiba terputus dan turun, benar benar mengasyikan. sayang teman ini tak tahu jalan, mungkin lebih asyik kalau ia tahu dan menuliskannya di pace note lalu membacakannya di antara deru mesin saat itu.
BRAAAKKK...!!! suara benturan saat "bermain", membuat kami berpandangan,
"moga moga bukan karter yang kena..", batin saya, sedikit slow down tapi akhirnya terlena juga dengan raungan mesin untuk mengarungi tanjakan.
beberapa menit sebelum kami sampai di puncak pos karcis masuk tutup dan ada umbul umbul provider seluler, XL. kebingungan ini terjawab setelah sampai. setelah parkir kami keluar untuk menggeliat dan tentunya merokok lagi, tak lagi hujan di sana, jam menunjukan pukul 3 seperempat pagi.
ada ereksi panggung hiburan, mungkin acara musik untuk tahun baru muharram besok.
setelah menghabiskan sebatang rokok kami balik ke mobil dan menata jog, merebahkan sandaran dan sedikit membuka jendela, tak lupa stel alarm untuk esok pagi. good night.. eh good morning..
pagi seperti biasanya alarm jam 5 berdering memaksa saya untuk bangun. terus.. matiin dan balik lagi ngruntel karena dingin. kebiasaan di kost.. hal yang sama berlaku untuk teman. akhirnya jam 6 baru kami tersadar. dia sedikit saya paksa untuk menyusur anak anak tangga kenuju ke puncak batu karang.
sesampai di puncak, tak ada apa apa.. cuma putih sepanjang pandangan mata.
shit...!! kabut masih saja menggumpal. lumayan lama untuk menunggu kabut naik. sedikit demi sedikit kami berasa di negeri di atas awan, cuma pucuk pucuk gunung kembar di kejauhan, merapi merbabu dan sindoro sumbing. benar benar elok, tapi mana sunrisenya..?? ketika hampir semua tersingkap, mentaripun ikut tersingkap..
lha bangsat..!!! dia sudah berada di atas hampir 45 derajat di pandangan kami.. sunrise indah yang kami idam idamkan terlarut dalam tawa, pisuhan dan kepulan asap rokok.
tebing tebing curam dan hijaunya hutan tropis jawa mirip seperti pemandangan dalam film Jurassic Park. cuman kurang t-rex saja dan mungkin tergantikan dengan kadal yang tak pernah belajar sopan santun, kewan ndlosor itu mengagetkan gara gara berjalan cuex menginjak kaki saya.
kami masih menunggu borobudur dari sini. sekian tahun lalu saya disini melihat borobudur dalam balutan permainan lampu, kalau tidak salah saat ada lomba heritage lighting taraf internasional.
si pitik menjadi penemu alias discoverer gara gara saya nggak menemukan kawasan yang dimaksud. secara tidak sengaja ada lampu berkelip di kejauhan, mungkin lampu blitz dari tustel. tustel..??
"kowe ra nggowo tustel..??"
"tustele digowo masku neng karimun..", jawabnya, "lha kowe ora..?"
"ora, tak pikir kowe nggowo.."
"taek.. ra ono sing nggowo.. biasane kowe kan gowo slr"
"silit ah.. slr tuwek ndadak tuku amunisi.. wingi aku mulihe mrene langsung seko kerjaan, ra tak gowo. neng omah yo ono poket digital tapi kan luwih apik nggonmu"
saling menyalahkan karena tak membawa alat perekam momen tak menyelesaikan persoalan. menertawai diri akibat saling menggantungkan kebutuhan menjadi lebih mengasyikan.
"aku kan anti narsis dadi ra perlu poto potonan.."
"taek.. iki mesti bakal hoax.. ora ono skrionsute.."
turun dari sana kami menikmati mi rebus dan teh panas.
setelah memanasi mesin, perjalanan kami lanjutkan, kebut kebutan tadi malam seakan menjadi memori yang cukup bodoh untuk diulang kembali ketika cahaya menerangi jalanan balik yang ternyata diapit jurang jurang menganga yang entah seberapa cabutan nyawa dalamnya. semalam tak terlihat karena kabut memperpendek jarak pandang dan nyali ini enggan mengawasi sekitar dan lebih senang berlari lari di depan membakar emosi membuang dingin sehingga kami mengejarnya. miris benar..
berjalan santai mengikuti erangan mesin saat turun, kami menemui hal hal yang menyenangkan. senyuman dan sapaan bersautan seakan menghangatkan badan yang masih terasa dingin ini. sebuah keramah tamahan yang jarang saya temukan di jakarta.
"asu.. aku kebelet ngising..", gumam si pitik, sebuah panggilan alam memaksa saya berfikir untuk mencari akomodasi dadakan. saya banting stir ke Sendang Sono. sudah lama saya tak pergi ke sana.
suatu kawasan wisata rohani yang di tata ulang oleh Alm Romo Magun di awal 90 an ini mendapat award dari IAI, tak berlebihan memang karena detail dan permaian lingkungan binaan tersaji berpadu sempurna dengan lanskap alamiah dan membangkitkan suasana tenang. sangat nyaman untuk menepi meskipun semua ini hanya artificial.
berdoa..?? tidak, setelah MCK lalu saya tawarkan sarapan ke teman, sebuah suguhan untuk mengembalikan panas tubuh.. RICA RW atau sengsu. sayangnya si teman nggak doyan..
ketika akan ada misa pagi, kami pergi meninggalkan lelah untuk menuju ke tujuan semula. Jogja. tak melewati jalan utama, kami memilih untuk menyambangi jalan arah wates dan belok di godean baru menuju kota. stir saya arahkan ke BI depan benteng sana ketika sobat lain menjanikan setelah kami paksa untuk bertemu.
malioboro macet panjang. sialan. mesin tua ini mulai bikin ulah, untuk pertama kalinya ia mogok. gampang di starter ulang, hanya stasionernya nggak langsam. kaki terpaksa menggantung gas, lumayan tak nyaman untuk nyetir persneling manual di kemacetan dengan cara itu. menunggu di BI teman tak kunjung datang, kami coba cari SPBU untuk mengisi tangki yang mulai menipis ini. sial kok mesin jadi boros.
"liburan kok trimaning jajan warteg..??", sungguh memalukan dan merepotkan ketika statemen itu dengan sendirinya tercetus dan terukir di sanubari terdalam, hari beranjak siang akhirnya sekalian cari akomodasi, kami coba isi perut. jalan kaliurang km 10 gerimis sedikit ketika kami makan ikan bakar.
mencari akomodasi di kaliurang kami urungkan ketika bolak balik tak mendapat room yang rodo mriyayeni.
kembali ke kota untuk golek tontonan pun tak membuahkan hasil. sobat jogja yang kami paksa itu menjanjikan lagi ketemu di bunderan UGM, lumayan lama menunggu tak kelihatan pula batang hidungnya, cuma agak lega ketika si tobil menemui kami. ia mengusulkan tempat jagongan yang lebih mriyayeni daripada cuma njagong di trotoar.
obrolan demi obrolan mencairkan suasana. lalu, lebih parah dari jalangkung, banyak teman teman jogja satu persatu datang dan join.. kalo jalangkung datang tak dijemput pulang tak diantar, tapi teman teman jogja ini, datang tak dijemput tapi ra do mulih mulih malah tambah akeh, ternyata si tobil yang mengundang mereka.. fiuuhh... untunglah saku ini masih terlalu dalam buat mereka..
tepat lepas magrib kami berpamitan dan meneruskan perjalanan kami. sesampai di magelang, kami recharge bensin. kita kemana nih bos..?? ke kopeng kali ya.. akomodasi di sana sepengetahuan saya lumayan terjamin.
dalam perjalan, telepon sempat berdering, bos yang jauh di jakarta sana diskus masalah progres duit dan entertain buat rekanan penting. yah.. ok besok sekembalinya saya beresin deh..
semalam kami benar benar pulas di balutan dingin. lelah dan penat terlebur dan tersapu dinginnya udara malam lereng merbabu.
esoknya saya rapihkan mobil, ngecek apa ada yang nggak beres..? ternyata kabel busi silinder nomor 1 di distributor kendor..
lhaa wedhuuuss... kembali normal mesin setelah itu. turun ke salatiga kami lewati untuk mengarah ke semarang, di banaran ada coffee shop, kami coba berhenti ternyata benar benar penuh, sial, tak sabar menunggu lama akhirnya kami sampai di ungaran, sate pak kempleng jadi menu makan siang kami. setelah selesai mengisi perut kami ke semarang untuk cari tiket balik ke jakarta.
Stasiun sedang dilanda derita rob saat itu. byuh.. argo sindoro bakal mengantar kami kembali ke rutinitas esok pagi tanggal 30 desember 2008.
kurang puas dan lama memang, tapi toh kalau mengikuti keinginan untuk bersenang senang tak akan kunjung selesai. mungkin ini memang sebuah perhentian kami sejenak disela terjepit oleh rutinitas yang menjadi tuntutan di perjalanan kami yang sesungguhnya.
besok entah kapan kami akan berlari lagi, dengan persiapan yang lebih dalam dan tustel anti kenarsisan dan anti kehoaxan tentunya.
oh ya kami baru tahu sesampainya di jakarta, ternyata teman di jogja yang sempat kami pisuh pisuhi dan komplain keras sedang kesripahan.
"sepurane dab, nderek belasungkawa.. kowe kok ora ono tembung to... yo wis lah.. eh ojo kasar kasar dab, bocahmu lagi skripsi"
tememplek by endik kurang luwih jam
10:59 PM,
>
,
dipun link kaliyan postingan menika






