wanita, the truly manager

Saat ini saya masih terjaga seperti biasanya. Cuma saya sedang memikirkan sesuatu yang mungkin anda pernah pikirkan. Saat mencoba resting pikiran, sambil mereguk kopi dan sebatang tembakau, sembari menikmati dinginnya udara malam setelah segar diguyur hujan tadi sore, masih berkabut dan lumayan sejuk. Sengaja dari tadi winamp saya aktifkan untuk melantunkan lagu lagu yang soft, supaya sedikit membantu slowing down laju roda roda gigi di otak. Secara kebetulan karena suffle mode saya on kan, terdengar lagu manis dari Karyn White, superwoman. Entah karena pikiran lagi kosong, syair lagu menjadi terasa masuk mengisi pikiran, secara tak sadar pula saya mencerna bait demi bait, kata demi kata.

Yah lagu itu seperti sebuah ungkapan emosi dan mungkin juga dapat dikatakan sebuah upaya untuk tegar kalau tidak mau dikatakan sebuah counter back argumentasi, pembelaan diri. Saya tidak mau mengapresiasi lagu itu, silakan anda dengar dan resapi sendiri, sense of meaning saya beda dengan anda, seni dan apresiasi itu subyektif sekali.

Saya mencoba berpikir yang logis saja. Apa yang diceritakan si Karyn ada benarnya juga, sering kali saya dengar dan lihat sendiri, masih ada pendapat persons, pria tentunya, yang menganggap peran seorang wanita tak lebih dari pelengkap saja. Benarkah demikian..?

Sekali lagi pendapat bisa berbeda. Tapi mari kita sedikit berhitung. Taruh kata acara pagi istri anda. Pagi benar ia harus bangun, untuk mencuci baju, memasak untuk sarapan anda. Kalau anda sudah memiliki buah hati, belum selesai ia menghidangkan makanan untuk sarapan, si buyung mulai ribut entah terbangun entah ngompol atau kenapa,terpaksalah harus mengecilkan api kompor untuk mengatur timing antara kegiatan dapur dengan acara menenangkan si buyung tidak berbenturan. Seteah selesai kembali ke dapur atau si upik sudah perlu dibangunkan supaya ia bisa mempersiapkan diri untuk sekolah..? Ketika semua tadi sudah running, istri anda harus mengambil sapu dan mulai membersihkan istana anda, belum usai acara menyapu, si upik kembali membuat acara baru dengan menunda kegiatan makannya, entah minta disuapi atau ia sedang tidak berselera, padahal ia harus segera berangkat sekolah supaya tidak terlambat. Setelah semuanya clear, ia meneruskan menjadi cleaning service pribadi anda, meneruskan acara menyapu atau mulai melanjutkan dengan acara membereskan pasca sarapan. Mulai menyimpan masakan yang tersisa, membersihkan meja makan, mencuci piring. Fiuuhhh… everything’s done. Take a rest time. Ups.. kalau istri anda seorang pekerja pula seperti anda..? bagaimana dengan timing tadi..? lebih majukan…? Atau bila istri anda pekerja dengan shift, misalkan di pabrik, dan shift dimulai per jam 6 pagi..? seberapa hebatkah kecekatan yang diperlukan..?

Dalam rutinitas sehari hari sedikit salah timing atau ada hal yang diluar dugaan berakibat mengacau jadwal yang telah seakan akan terbentuk, kekacauan yang berimbas pada keterbatasan waktu pasti mengorbankan beberapa item, terlewat atau tidak sempat. Sama dengan rutinitas pagi tadi, meskipun sebuah rutinitas, namun apa yang dihadapi tiap pagi tidaklah sama. Misalkan karena si buyung ngompol dan ia harus segera dibersihkan, namun karena terburu buru menyambangi jadi kelupaan untuk tidak mengecilkan kompor, mungkin pada saat menyapu disambi dengan memasak misalnya dan pecah tangisan si buyung tadi yang meminta prioritas dan urgensi yang lebih untuk diperhatikan. Alhasil sarapan anda menjadi berantakan, gara gara gosong. Andalah yang menerima konsekuensinya. Anda mungkin diam karena menyadarinya, tapi mungkin ada juga di antara anda yang entah mengerti atau tidak pangkal permasalahannya, tiba tiba marah marah karena tidak jadi sarapan. Ngamuk nggak karuan sampai mungkin mendiamkan istri anda. Haahhh… Sepele saja sebenarnya.

bagaimana bila si upik tiba tiba sakit, padahal semalam ia baik baik saja, jadwal menjadi lebih padat karena si upik membutuhkan ekstra perhatian lebih dari biasanya. Secara naluriah saja.

Jika anda..? anda cukup bangun karena dibangunkan atau alarm, lalu tengak tengok mencari nyawa, lalu beranjak ke kamar mandi atau, “sayang, kopiku mana..?”.

Anda cukup duduk di kursi meja makan setelah istri anda memanggil, ”mas.. sarapan dulu..”. lalu setelah selesai dengan sarapan baru memonitor, “sayang, si buyung masih tidur..? si upik sudah bangun belum..?”

Setelah mendapat laporan barulah, “oke sayang, aku berangkat dulu ya, baik baik dirumah. Cium dulu sini.. clup :-*”, atau mungkin malah dengan embel embel, ”ntar masakin lauk kesukaanku ya..”

Haha.. simple banget ya.. dari sepenggal cerita ini benarkah begitu adanya peran pelengkap itu..? justru sesuatu yang behind the screen itu lebih rumit, berat dan beresiko dari everything that shown on the screen..?

Mungkin seperti berikut ini padanan posisi anda berdua tentunya secara fungsional di dalam kerajaan anda. Anda adalah direktur keluarga dan isri adalah manajernya. Direktur adalah direktur, seorang owner of control. Yang mendedikasikan arah kemana sebuah company mau dijalankan. Bikin strategi lalu tau beres. Tetapi jangan lupa manajer itu mempunyai banyak fungsi, dari operasional, procurement, housekeeping, marketing hingga general affair. Owner of the operation. Atau bisa juga anda adalah presiden dan istri anda perdana mentrinya. Atau mungkin Leader dan deputy, dan masih banyak lagi padanannya.

Terus terang saya sendiri mengakui dengan sejujur jujurnya, bahwa saya tidak mampu untuk melakukan yang seperti di atas. Ini bukan pesimistis atau kalah sebelum perang. Tapi memang benar adanya. Terlalu rumit dan berat. Saya lebih memilih kerja fisik namun fokus di satu target selama jam normal ditambah lembur.

Hehe.. saya pernah dikasih Paman Tyo sebuah buku, why man can doing anything and woman cannot stop talking. Semua berbalik di posisi masing masing, dari fungsi secara alamiah hingga porsi untuk kemampuan melakukan sesuatu hal. Wanita dan pria memang berbeda, hampir bisa dikatakan berkebalikan. Ibarat kata, penjodohannya adalah untuk menyempurnakan. Haha.. seperti yin yang kali ya..

sebagaimana legenda, wanita adalah sebuah tulang rusuk pria yang hilang. Terus bagaimana dengan yang istrinya nyampe 3 orang..? apa tulang rusuk si pria hilang 3 biji..? ah entahlah..

Saya tak habis fikir dengan rata rata keinginan yang diatas namakan pubertas kedua. Entah selingkuh, ‘Cuma main main saja’, iseng, atau ‘ganti suasana’. Saya memang belum mengalaminya. Dan saya nggak mau munafik dengan mengatakan ‘nggak akan’, kan saya belum mengalaminya.. (kalo buaya itu soal lain.. buaya cuma soal 'kemampuan') Hehe.. dan ini bukan sesuatu yang sepele bukan karena masalah sakit hati si istri, tapi saya lebih takut efeknya. Jikalau saya harus melakukan semua yang ada di atas karena istri ngambek.

Bagaimana dengan pendapat anda..?


gambar dari sini

tememplek by endik kurang luwih jam 10:25 p.m., > , dipun link kaliyan postingan menika

sakderengipun kawula nyuwun agunging samudra pangaksami dumateng panjenengan sami, sesepuh pinisepuh, bapak bapak saha ibu ibu, mas mas saha mbak mbak ingkang kersa mampir dhateng papan kawula menika, menawi wonten kalepatan, sedaya klenta klentunipun bilih tumindak lan atur, nyuwun boten dipun dadosaken penggalih, mugi mugi Ngarsa Dalem Sing Ngecat Lombok paring berkah..