29 th..?

"lho kamu sudah 29 tahun toh..?"
jadi pada diem... emang kenapa kalau 29 th?
bercanda dengan teman sepabrik, terutama gerombolan cewek cewek dan ibu ibu muda juru admin sering membuat lupa waktu, energi hasil olahan nasi campur ala warteg di usus terbuang dengan mudahnya. gak jelas yang diobrolkan, yang jelas final resultnya hanya satu, ketawa tawa..!
kebetulan tadi saya dapat jatah di garap, pasca teman dengan muka merah menahan gempuran akibat kegaptekan diri setelah mendapat jatah monitor LCD baru untuk menggambar. sudah beberapa minggu ini dia mengeluh sakit leher dan cepat mengantuk. kenapa? hanya karena LCD baru itu yang masih keras ketika di swing arah layarnya, takut rusak, sehingga merelakan diri menggambar CAD sembari menghormat ala jepang. monitor itu bukan dengan ideal menatap muka, namun menunduk menghadap dada. Jadi selama beberapa minggu itu dia menggambar secara tidak ergonomis. mejanya gak pas, monitornya jelek, dan berbagai macam komplinan lain meluncur dari dirinya, via pergunjingan dengan teman teman se blok workstation dan menyebar hingga ke divisi IT. :D
kalau saya? temanya tak lebih dari kurus dan menyisir rambut (itu satu satunya note buat saya ketika debriefing dulu), ada teman yang gemuk bercita jadi kurus dan berharap terkabul pasca menikah, ngirit gaji buat makan, lha kalau saya katanya sih justru jadi gemuk, entah dari susu, entah dari 'dipegang pegang' (nah.. yang gemuk apanya nih..?). saya cuma tertawa, tak lebih, percuma melawan toh nantinya gantian saya juga mengejek yang lain. ejekan terus bergeser ke penjodoh jodohan.
"advendi sih masih lamaaaa... jangan di ajarin ntar pengen.."
"iya lu harusnya gak boleh di sini. ini khusus dewasa."
"jangan di godain, ntar diaduin ke kak seto..!"
jiaahh..
"emang elu umur berapa sih ndik..?"
Hmmmmm...

tememplek by endik kurang luwih jam 12:00 a.m., > , dipun link kaliyan postingan menika

pertanggung jawaban ilmu dan masa depan..?

sudah lama tak mengisi tempat sampah ini, setelah beberapa waktu menikmati mainan lain. menulis di sini serasa menginventaris ulang beberapa lembar hari hari yang terlalu crowded dan membutuhkan tempat untuk membuang umpat.
saya tak ingin membicarakan itu, tapi memang sebenarnya saya juga menikmati menulis panjang lebar seperti ini, entah cerita apapun, baik yang jelas maunya maupun yang asal nulis saja.
terus terang saja saat saya menulis ini, sebenarnya saya sedang bimbang, bimbang dalam hal nggolek duwit tentunya.
satu sisi, suksesi di pekerjaan tidak berpihak baik ke saya, segala yang dijanjikan urung telaksana, entah sadar atau tidak dalam hirarki kerja sering terjadi pengkubuan. Saya tak peduli dengan itu. saya bekerja dengan benar tentunya sesuai arahan dan tentunya sesuai cara saya. namun tak sadar itu menyiratkan saya ada di pihak satu.
"oh dia sih orangnya Pak xx." Huh.. tak seperti itu memang. saya termasuk kolot, saya punya cara saya untuk menjalankan sesuatu, dan sering melintas perkarangan orang. ngawur? tak juga, selalu ada 2 sisi mata uang, sebenarnya sih 3 sisi menurut saya.
dibilang saya orangnya si ini atau si itu sih sebenarnya tidak juga, saya pernah ikut sana ikut sini, namun saya punya cara sendiri untuk menyelesaikan garapan saya, dan tak semua orang dapat menerima cara atau pola kerja itu, hanya ada seorang kawakan yang bisa menerima itu, selalu memotivasi dengan bahasa yang khas dan dengan tegas memberikan beban yang tak semestinya (jika orang lain lihat), tak apa sih, dengan kebesaran dia, saya tak di ganggu orang lain.
aman, kuat, namun tak berduit.. intinya seperti itu sih, berbanding terbalik dengan team yang lagi naik daun karena suksesi itu, iri iya, saya tak mau munafik. saya berani bertaruh, saya tinggal, remuk garapan ini. adalah suatu perpaduan antara teknis, sosiologi, dan bumbu kebohongan dapat menjaga hubungan timbal balik yang saya yakin tak sembarang orang yang bisa, terbukti beberapa pendahulu saya diusir.
lepas dari itu beberapa tawaran untuk meloncat, tak juga menarik hati, terus terang ada sumpah sewaktu meninggalkan teman teman sepenanggungan, bahwa yang terluas, tertinggi dan terbesar nanti ada saya. sedikit demi sedikit itu tercapai, lepas dari ada duitnya atau gak.
bertukar pikiran dengan orang tua ketika kemarin saya di interogasi mengenai kemajuan kualitas hidup, membuat saya diam.
"kamu yang memilih itu, bapak hanya menuntut pertanggung jawaban kamu."
siapa bilang jadi arsitek banyak duit? kalo sudah besar iya, namun untuk menjadi besar, tak lebih mudah dari yang sudah saya lalui sekarang, 5 tahun lepas dari bangku kuliah saya sudah memutuskan untuk menjadi seperti yang saya idam idamkan, majalah itu meracuni saya untuk mejadi seperti ini.
saya masih mengidamkan sertifikasi itu seperti sekian tahun lalu, satu sudah dapat, satu lagi belum, saya tak pandai mengelola duit, jadi mungkin akan saya kagetkan saja nanti ketika mau bayar maharnya, namun ada persyaratan yang saya tak punya. pengakuan dari publik (ISO, terdokumentasi gitu lhoo)
saya sedang menikmati untuk 'mengarsiteki' sesuatu yang kecil, pernahkah anda berpikir berapa persen dari kasus kematian akibat efek berantai gempa dan sebagainya dari hunian kelas kampung? dari beberapa persen itu, berapa yang menggunakan arsitek?
"wah gak kuat bayarnya mas..", seseorang bapak bapak yang beberapa tahun yang lalu saya dolani, setelah kehidupan pasca gempa itu balik normal. "lagian apa bisa menahan amukan bumi ini? itu rumahnya pak xx ambruk juga padahal keponakannya arsitek di njakarta. gedung itu pake arsitek juga tapi masih ambruk.", secara saya, sangat bingung mendengar ungkapan yang tak perlu dijawab itu.
hari selasa kemarin, lagi, saya mendapat serantang nasi, semur jengkol, daging gepuk dan sayur rebung, masih hangat di sore itu, dari seorang ibu ibu yang mungkin hanya hendak membangun,tanpa tahu raelisasinya kapan, sebuah rumah untuk anaknya di beji sana, kayak sinetron ya..?
cuma sekian puluh ribu yang saya keluarkan, tak berarti, dibanding niat tulus berboncengan dari beji depok dengan si anak yang dia banggakan bekerja sebagai sekuriti di yayasan outsourcing yang siap sedia berdiri tegap untuk menghutang ke bank, dua bungkus djisamsu, sebagai citra penghormatan tertinggi di kaum perokok, ia bonuskan begitu membuka lebar lembaran kertas plano yang mungkin ia baru pertama kali pegang (begitu hati hati membuka teknik tekukan khas gambar kerja, tergagap sampai sedikit sobek dan berujung diomelin enyak nya). saat itu saya merasa sangat berguna.
"saya punya cara sandiri untuk mempertanggung jawabkan ilmu saya pak (kalau sedang mood sih)"
saya teringat sekian tahun lalu ketika saya masih duduk di SMU, "garis tanganmu ora dadi wong sugih."
haha.. setidaknya saya cukup menikmati hidup ini. lha terus kapan kawinmu? itu soal lain lagi..
terucap dalam hati saat sharing dengan bapak kemarin, ada niat yang tak kesampaian dalam mempertanggungkan ilmu oleh bapak, saya pasti bisa menunaikan, namun belum untuk saat ini.

tememplek by endik kurang luwih jam 11:08 p.m., > , dipun link kaliyan postingan menika

sakderengipun kawula nyuwun agunging samudra pangaksami dumateng panjenengan sami, sesepuh pinisepuh, bapak bapak saha ibu ibu, mas mas saha mbak mbak ingkang kersa mampir dhateng papan kawula menika, menawi wonten kalepatan, sedaya klenta klentunipun bilih tumindak lan atur, nyuwun boten dipun dadosaken penggalih, mugi mugi Ngarsa Dalem Sing Ngecat Lombok paring berkah..