cerita kopi, tembakau dan kendesoan maandag, februari 16, 2009
kalo boleh saya nebak ketika anda masih SD, SMP ketika ada kenaikan kelas dan terjadi pengacakan terhadap siswa, anda secara refleks mencari teman bangku yang telah mengenal anda, seperti mantan teman sekelas di tingkat sebelumnya, atau bisa juga yang anda kenal di kantin, atau bisa juga yang lain, tapi menjurus arahnya ke sana. sangat canggung bila anda duduk dengan teman baru yang sama sekali belum anda kenal, meskipun kenyataannya rasa canggung ini paling cuma sehari, atau justru semenit.
ketika mulai ke jakarta saya memang merasakan canggung yang luar biasa, karena saya datang sendiri dan hanya mengenal beberapa teman yang tentunya eks teman saya jauh di aktivitas saya sebelumnya, teman kuliah. tidak satu ada kenalan sekerjaan. jadi bahan tertawaan karena logat saya yang medhok tur mbededeg, memang canggung berbicara sehari hari dengan bahasa Endonesah meskipun ini bahasa nasional sekalipun.
saya tak pungkiri meskipun sekarang lagi mengadu nasib di kota besar tapi toh masih juga tidak hilang kendesoan saya. yang mengenal saya tentunya mengerti benar.
berbicara hal yang lain sepeda kumbang alias pit unto (dames/cewek) atau pit kebo (heeren/cowok) bisa dikatakan menjadi ikon di beberapa kota yang rodo ndesit, disini yang saya maksud adalah yang benar benar digunakan mayoritas penduduk sehari hari. saya tak perlu mencontohkan daerah mana, yang jelas anda pasti mengerti benar apa yang saya maksud.

di tempat kerja dahulu, saya mendapat jatah kompie yang online 24 jam. ketika iseng merdukun di lapaknya mbah gugel, saya bersua secara maya dengan lapak mas bahtiar. dari sini interaksi dengan beliau berjalan dan berkembang ke tongkrongan yang tentunya nyaman karena yang saya ceritakan di paragrap awal tadi. kendesoan, guyub dan sebagainya benar saya rasakan. bak bercengkerama dengan teman teman lama saya dulu.
penggalan penggalan cerita tentang hal hal yang nggilani, lucu lucu, umuk kata orang yogjo atau unthuk kata orang solo benar benar nyaman adanya, awalnya dari kehidupan sehari hari, nostalgia sepeda tua, consinyur koffee dan tabak sampai ruang toleransi untuk saya pribadi menjadi konsinyur wedang yang tak punya kode Depkes macam KTI, gingseng dsb
terlepas dari semua itu, saya punya alasan bahwa saya menikmatinya. having good times. saya benar benar merindukan ini.
selamat ulang taun mas bah.
tememplek by endik kurang luwih jam
10:16 p.m.,
>
13 menungso nderek ngopleh
,